Lazismu dan MPM Jateng Tampilkan Program Pemberdayaan Ketahan Pangan di PADI 2026

Lazismu Jateng dan MPM Jateng mengikuti PADI 2026 di Agro Center Soropadan Temanggung
Lazismu Jawa Tengah bersama MPM Jawa Tengah berpartisipasi dalam kegiatan Pekan Agro Digital dan Inovasi (PADI) 2026 di Agro Center Soropadan, Temanggung.

Temanggung — Lazismu Jawa Tengah bersama Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah turut berkolaborasi dalam kegiatan Pekan Agro Digital dan Inovasi (PADI) yang digelar di Agro Center Soropadan, Jalan Raya Magelang–Semarang Km 12,8, Pringsurat, Temanggung, pada Kamis hingga Senin, 23–27 April 2026.

Kehadiran Lazismu dan MPM Jawa Tengah dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari dukungan Muhammadiyah terhadap penguatan sektor pertanian dan peternakan. Kedua lembaga di bawah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah ini menampilkan berbagai program pemberdayaan masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan ketahanan pangan, pertanian produktif, dan peternakan berbasis masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, Lazismu Jawa Tengah menempati area stan B6, B7, dan B8 bersama unsur Muhammadiyah Jawa Tengah. Sejumlah perwakilan Lazismu Jateng turut hadir, di antaranya Kepala Divisi Fundraising Lazismu Jateng, Slamet; Kepala Divisi Media Lazismu Jateng, Jabbar; serta Kepala Divisi Program Lazismu Jateng, Fakhriizuddin. Turut hadir pula Ketua MPM PWM Jawa Tengah, Fatchur Rochman.

Kepala Divisi Fundraising Lazismu Jateng, Slamet, menyampaikan bahwa keikutsertaan Lazismu dalam PADI 2026 menjadi kesempatan penting untuk mengenalkan program-program pemberdayaan kepada masyarakat luas. Ia juga mengajak masyarakat Jawa Tengah untuk hadir dan melihat langsung berbagai program yang ditampilkan di stan Lazismu dan PWM Jawa Tengah.

“Kami mengajak masyarakat Jawa Tengah untuk datang, mengikuti kegiatan PADI, dan mampir ke stan Lazismu Jateng bersama PWM Jawa Tengah. Di sini masyarakat bisa melihat berbagai program pemberdayaan yang selama ini dijalankan, termasuk di bidang pertanian dan peternakan,” ujar Slamet.

Ia menambahkan, Lazismu tidak hanya bergerak dalam penghimpunan dan penyaluran dana zakat, infak, dan sedekah, tetapi juga memiliki perhatian besar terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat. Salah satu bentuknya ialah melalui program Tani Bangkit dan penguatan peternakan berbasis pemberdayaan.

Menurut Slamet, program-program tersebut menjadi bukti bahwa dana sosial keagamaan dapat dikelola untuk menciptakan manfaat yang berkelanjutan. Bantuan yang diberikan tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat.

Sementara itu, Ketua MPM PWM Jawa Tengah, Fatchur Rochman, menyampaikan bahwa Muhammadiyah memiliki perhatian besar terhadap pemberdayaan masyarakat, termasuk dalam sektor pertanian dan peternakan. Ia menilai, sektor tersebut merupakan bagian penting dalam membangun ketahanan ekonomi warga.

“Muhammadiyah terus berupaya memberikan kontribusi nyata dalam pemberdayaan masyarakat. Melalui MPM, kami mendorong program-program yang menyentuh langsung kebutuhan warga, terutama di bidang pertanian, peternakan, dan ekonomi kerakyatan,” ungkap Fatchur.

Secara tidak langsung, Fatchur menegaskan bahwa kolaborasi antara MPM dan Lazismu menjadi kekuatan strategis dalam memperluas dampak program. MPM berperan dalam pendampingan dan penguatan masyarakat, sementara Lazismu mendukung melalui pengelolaan dana umat yang amanah dan produktif.

Kegiatan PADI 2026 juga menjadi ruang pertemuan antara pelaku pertanian, peternakan, lembaga pemberdayaan, dan masyarakat umum. Melalui kegiatan ini, berbagai inovasi di bidang agro digital dan pengembangan sektor pangan dapat diperkenalkan secara lebih luas.

Dengan keikutsertaan dalam PADI 2026, Lazismu Jateng dan MPM Jateng berharap program pemberdayaan Muhammadiyah semakin dikenal dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kolaborasi ini juga menjadi wujud komitmen Muhammadiyah Jawa Tengah dalam mendukung penguatan sektor pertanian dan peternakan sebagai bagian dari ikhtiar membangun kemandirian umat dan bangsa.