Optimalkan Penghimpunan Dana, Sekolah Amil Bekali Peserta Strategi Fundraising dan Loyalitas Muzaki

Materi Fundraising Sekolah Amil bersama BRI di Semarang

SEMARANG – Dalam upaya memperkuat kapasitas pengelola zakat di era digital, Sekolah Amil menyelenggarakan pelatihan intensif bertajuk “Pematerian Fundraising Retail dan Corporate serta Menangani Keluhan & Memelihara Loyalitas Muzaki”. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 27 Januari 2026 ini menghadirkan pakar perbankan dari Bank BRI Regional Jawa Tengah sebagai mitra strategis dalam ekosistem keuangan syariah.

Acara yang dipusatkan di Hotel Candi Indah Semarang tersebut menghadirkan Ibu Renny Mustika dari BRI sebagai pemateri utama. Pelatihan ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai lembaga amil zakat yang tergabung dalam Sekolah Amil. Fokus utama kegiatan adalah membekali para amil dengan teknik penghimpunan dana yang sistematis serta manajemen hubungan donatur yang profesional.

Baca juga : Tingkatkan Kualitas Layanan Amil, Lazismu Jawa Tengah Gandeng BRI Gelar Pelatihan Service Excellence

Esensi Fundraising dan Peran Perbankan

Dalam paparannya, Renny Mustika menekankan bahwa fundraising bukan sekadar aktivitas meminta donasi. Ia menjelaskan bahwa fundraising adalah sebuah proses sistematis untuk menghimpun dana, menjaga kepercayaan, dan membangun hubungan jangka panjang dengan donatur demi dampak sosial yang berkelanjutan.

“Terdapat empat pilar utama dalam strategi penghimpunan dana, yakni Trust (kepercayaan), Ease (kemudahan), Impact(dampak), dan Relationship (hubungan). Dalam hal ini, sektor perbankan seperti BRI berperan besar pada aspek kepercayaan dan kemudahan akses bagi para muzaki,” ujar Renny di hadapan para peserta.

Materi Fundraising Sekolah Amil bersama BRI di Semarang

Strategi Retail dan Korporasi

Materi berlanjut pada pembedahan strategi fundraising retail. Peserta diajarkan untuk menyasar sumber dana dari individu, komunitas, jamaah, hingga karyawan. Meski nominalnya cenderung kecil hingga menengah, keunggulan segmen ini terletak pada sifatnya yang berulang (recurring).

Renny menjelaskan bahwa dukungan teknologi perbankan menjadi kunci keberhasilan retail. Penggunaan fitur seperti BRImo, QRIS, serta layanan autodebet memungkinkan muzaki berdonasi dengan sangat praktis. Jaringan AgenBRILink yang tersebar hingga ke pelosok juga disebut sebagai sarana memperluas jangkauan layanan lembaga zakat.

Sementara itu, untuk segmen korporasi, peserta diarahkan untuk memahami pola sinergi melalui proposal berbasis dampak dan keberlanjutan. Dalam skema ini, bank berperan sebagai jembatan antara lembaga zakat dengan nasabah korporasi melalui sinergi Corporate Social Responsibility (CSR) dan pelaporan keuangan yang transparan.


Manajemen Keluhan dengan Metode E-CARE

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian adalah penanganan keluhan dan retensi muzaki. Renny memperkenalkan model E-CARE (Empathy, Clarify, Action, Report, Evaluate). Melalui metode ini, amil diharapkan mampu menangani keluhan secara profesional dan empatik.

Menurut Renny, tujuan akhir dari penanganan keluhan bukanlah sekadar menyelesaikan masalah teknis, melainkan untuk menguatkan kembali kepercayaan yang sempat goyah. Ia menambahkan bahwa loyalitas muzaki sangat dipengaruhi oleh komunikasi yang intens dan apresiasi yang tulus dari lembaga.

Untuk memberikan pemahaman praktis, peserta diajak melakukan simulasi atau role play donasi komunitas melalui QRIS. Dalam simulasi tersebut, ditekankan betapa pentingnya menjelaskan kemudahan transaksi secara sederhana kepada muzaki agar kepercayaan dapat terbangun dengan cepat saat itu juga.

Membangun Loyalitas Berkelanjutan

Menutup rangkaian kegiatan, para peserta diberikan strategi praktis untuk menjaga loyalitas donatur. Beberapa poin penting yang ditekankan adalah pembuatan laporan berkala melalui metode storytelling dampak, program donasi rutin melalui autodebet, serta penanganan keluhan yang proaktif.

Dengan penguasaan teknik ini, diharapkan para amil tidak hanya mampu menghimpun dana dalam jumlah besar, tetapi juga mampu merawat hubungan baik dengan para muzaki sehingga tercipta ekosistem filantropi Islam yang kuat dan akuntabel di Jawa Tengah.