SRAGEN – Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Wilayah Jawa Tengah resmi menutup agenda Rapat Koordinasi Khusus (Rakorsus) Ramadhan dan Qurban 1447H pada hari Ahad, 8 Februari 2026. Bertempat di Sragen, kegiatan ini menjadi momentum strategis bagi Lazismu se-Jawa Tengah untuk mematangkan konsolidasi organisasi menyambut bulan suci.
Agenda penutupan ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan teras, di antaranya Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, H. Dodok Sartono, S.E., M.M., serta Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Tengah, Dwi Swasana Ramadhan, S.E., M.SEI., Ak., CTA, ACPA, CertDA. Turut hadir pula para wakil ketua, seperti Dr. Sukamto, S.E., M.Si., dan Dr. H. Ahmad Furqon, Lc., MA., Sekretaris BP Lazismu Muhammad Amir Ansori, S.E., M.M., Wakil Sekretaris II Ir. Akhmad Zaeni, M.M., serta Manajer Area Suprapto, S.H., M.M.
Baca juga : Lazismu Jawa Tengah Targetkan Rp106 Miliar pada Ramadhan dan Qurban 1447 H dalam Rakorsus di Sragen

Dalam pidato penutupannya, Sekretaris PWM Jateng, Dodok Sartono, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh daerah atas kinerja yang telah didedikasikan selama ini. Namun, ia menekankan bahwa tantangan ke depan menuntut adanya transformasi persyarikatan yang lebih maju, profesional, dan modern.
Dodok menggarisbawahi pentingnya pemisahan peran yang jelas antara badan pengurus dan eksekutif. Menurutnya, struktur PWM maupun Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) ke depan harus mengadopsi sistem yang mirip dengan komisaris dan direksi dalam korporasi profesional.
“Pleno itu posisinya seperti Badan Pengurus, fungsinya merancang kebijakan layaknya komisaris, bukan sebagai eksekutor lapangan. Eksekusi harus dilakukan oleh eksekutif profesional,” ujar Dodok di hadapan peserta Rakorsus Lazismu Jawa Tengah.
Lebih lanjut, Dodok menekankan bahwa Lazismu di masa depan harus dipegang oleh sumber daya manusia (SDM) yang memiliki visi jauh ke depan. Ia meminta agar gerakan filantropi ini tidak lagi berjalan secara konvensional, melainkan harus melakukan lompatan besar.
“Lazismu ke depan harus dipegang oleh orang-orang yang progresif, agresif, dan dilakukan secara masif. Kita tidak boleh hanya sekadar menyajikan laporan angka, tetapi harus terlihat impact atau dampak nyatanya bagi umat,” tegasnya.
Untuk mendukung profesionalitas tersebut, Dodok juga menyarankan agar kantor Lazismu dibuat terpisah dari gedung PWM atau PDM. Hal ini bertujuan untuk membangun kemandirian dan citra lembaga yang lebih bonafide. Selain itu, ia juga menyinggung tentang integrasi keuangan PDM ke dalam sistem Lazismu serta pentingnya keberadaan sekretaris eksekutif yang tersertifikasi di sekretariat PWM dan PDM.
Dalam aspek pengawasan, Badan Pengurus diminta untuk mengontrol kinerja eksekutif menggunakan rasio-rasio keuangan yang terukur. Hal ini mutlak diperlukan agar tercipta Lazismu yang sehat secara finansial dan akuntabel.
“Lazismu ke depan harus membangun kedekatan dengan siapa pun untuk meningkatkan trust (kepercayaan). PWM juga berkomitmen akan menyiapkan lembaga training untuk meningkatkan kompetensi amil agar standar layanan kita semakin prima,” tambah Dodok.

Penutupan Rakorsus ini diharapkan menjadi titik tolak bagi Lazismu Jawa Tengah untuk tidak hanya sukses dalam penghimpunan Ramadhan dan Qurban 1447H, tetapi juga sukses dalam menata kelembagaan menjadi lebih modern dan berdampak luas bagi masyarakat.











Tinggalkan Komentar