SUMATRA BARAT – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah bersama Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Jawa Tengah menyalurkan bantuan senilai Rp250 juta untuk mendukung pemulihan sektor pendidikan pascabencana banjir bandang di Sumatra Barat. Bantuan tersebut secara spesifik dialokasikan bagi beasiswa pelajar dan bantuan bagi guru yang terdampak bencana.
Penyerahan bantuan ini dilakukan dalam rangkaian audiensi pada Jumat, 6 Februari 2026. Hadir dalam pertemuan tersebut jajaran pimpinan dari kedua wilayah, di antaranya Ketua PWM Jawa Tengah, Dr. KH. Tafsir, M.Ag. Sekretaris PWM Jawa Tengah, Dodok Sartono, S.E., M.M, serta jajaran manajemen Lazismu Jawa Tengah yang meliputi Dewan Pengawas Syariah Agus Miswanto, S.Ag., M.A, Wakil Sekretaris BP Ir. Akhmad Zaeni, M.M, dan Manajer Area Suprapto, S.H., M.M. Kehadiran mereka disambut hangat oleh PWM Sumatra Barat Dr. Bakhtiar, M. Ag, dan tim Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).
Baca juga : MDMC Jateng Kirimkan Tim Relawan Ke Mamuju, Dilepas Ketua PWM Jateng
Komitmen Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Ketua PWM Jawa Tengah, Kyai Tafsir, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar respons darurat sesaat, melainkan bagian dari upaya rehabilitasi dan rekonstruksi jangka panjang. Menurutnya, pendidikan tidak boleh terhenti meski sarana dan prasarananya sempat luluh lantak diterjang banjir.
“Bantuan dari Jawa Tengah ini berupa beasiswa dan kepedulian terhadap guru yang terdampak banjir bandang. Kami memandang bahwa bantuan tidak boleh berhenti pada tahap respons saja, tetapi harus berlanjut pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi,” ujar Kyai Tafsir dalam sambutannya.
Ia juga menambahkan bahwa pada 10 Februari mendatang, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah akan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) penanganan kebencanaan. PWM Jawa Tengah berkomitmen penuh untuk tegak lurus mengikuti aturan dan instruksi dari pimpinan pusat terkait skema penanganan bencana yang lebih komprehensif.

Strategi “Total Football” Lazismu
Dalam kesempatan tersebut, Kyai Tafsir juga membedah kunci keberhasilan filantropi di Jawa Tengah. Meski secara statistik Jawa Tengah masih termasuk provinsi dengan angka kemiskinan yang menantang, Lazismu di wilayah ini justru tercatat sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia. Hal ini, menurutnya, tidak lepas dari mentalitas pengelola yang progresif, agresif, dan ekspansif.
Ia mengibaratkan pergerakan Lazismu dengan strategi “Total Football”, di mana seluruh elemen organisasi, mulai dari jajaran PWM hingga staf teknis, berperan aktif sebagai pencari muzaki (pemberi zakat).
“Lazismu harus bermental perbankan. Harus tercapai target penghimpunan dan penyaluran. Sebagai bank, semua pegawai adalah pencari nasabah. Begitu pula di Muhammadiyah, semua personil adalah pencari muzaki,” tegasnya. Untuk tahun 2026, Lazismu Jawa Tengah mematok target penghimpunan sebesar Rp400 miliar, termasuk di dalamnya program RendangMu senilai Rp9 miliar.
Memperkuat Akar Sejarah Sumbar
Ketua PWM Sumatra Barat Dr. Bakhtiar, M. Ag menyambut baik kolaborasi ini. Ia mengingatkan kembali peran historis Sumatra Barat, khususnya Padang, sebagai kekuatan kedua setelah Yogyakarta dalam membesarkan Muhammadiyah pada masa awal berdiri. Namun, ia mengakui saat ini pertumbuhan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di Sumbar masih memerlukan akselerasi.
“Sumatra Barat memiliki peran historis yang sangat kuat dalam pengembangan Muhammadiyah, namun saat ini perkembangannya masih terbatas, dengan amal usaha yang masih sedikit,” ungkap Bakhtiar. Ia berharap kolaborasi dengan Jawa Tengah dapat menjadi pemantik bagi Sumbar untuk kembali bangkit dan mandiri secara ekonomi.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris PWM Jawa Tengah, Dodok Sartono, menekankan pentingnya efisiensi dan skala prioritas dalam mengelola sumber daya organisasi yang terbatas. Ia menyarankan agar setiap wilayah fokus pada satu program unggulan, misalnya pengembangan kampus atau rumah sakit, hingga benar-benar sukses dan mandiri sebelum merambah ke sektor lain.

Kegiatan audiensi ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab mengenai penguatan pilar gerakan Muhammadiyah yang bertumpu pada jamaah, jamiah, dan jariyah demi mewujudkan Muhammadiyah yang kuat di kancah lokal maupun regional.











Tinggalkan Komentar