Bulan yang dinanti-nantikan oleh setiap mukmin ini hadir membawa janji ampunan dan pelipatgandaan pahala. Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, sudah sepatutnya kita menjadikan beliau sebagai role model utama dalam mengisi detik demi detik di bulan mulia ini.
Apa rahasia Rasulullah SAW dalam menghidupkan Ramadhan? Jawabannya terletak pada keseimbangan yang indah antara hubungan vertikal dengan Allah (melalui Al-Qur’an) dan hubungan horizontal dengan sesama manusia (melalui kedermawanan).
Baca juga : Mengapa Kita Berpuasa?
Profil Ramadhan Sang Nabi: Kebaikan yang Berhembus Kencang
Sebuah kesaksian indah disampaikan oleh sahabat Ibnu Abbas r.a. mengenai karakter Nabi SAW di bulan puasa. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, digambarkan bahwa pada dasarnya Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling dermawan. Namun, level kedermawanan itu melonjak drastis saat memasuki bulan Ramadhan.
Digambarkan bahwa kebaikan beliau di bulan ini “lebih cepat dibandingkan angin yang berhembus.” Artinya, kebaikan beliau begitu ringan, cepat menjangkau siapa saja, dan membawa kesejukan bagi penerimanya. Apa pemicu lonjakan kebaikan ini? Ternyata, puncaknya terjadi ketika Malaikat Jibril a.s. datang menemui beliau di setiap malam Ramadhan.
Agenda Utama: Menyelami Samudra Al-Qur’an
Pertemuan setiap malam antara Rasulullah SAW dan Malaikat Jibril bukanlah pertemuan biasa. Agenda utamanya adalah mudarasah atau menderes Al-Qur’an. Jibril menyimak, dan Nabi membaca. Peristiwa ini menegaskan status Ramadhan sebagai Syahrul Qur’an (Bulan Al-Qur’an), sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 185.
Para ulama sepakat bahwa ini adalah sinyal kuat bagi umat Islam: agenda terpenting Ramadhan, setelah puasa itu sendiri, adalah berinteraksi intensif dengan Al-Qur’an. Sebuah ironi jika seorang muslim sukses menahan lapar dan dahaga di siang hari, namun mushafnya berdebu tak tersentuh di malam hari. Nabi SAW sendiri memberikan teladan dengan mengkhatamkan Al-Qur’an minimal sekali, bahkan dua kali di Ramadhan terakhir beliau.
Ragam Cara Bercengkrama dengan Kitabullah
Interaksi dengan Al-Qur’an tidaklah monolitik. Kita bisa menyelaminya melalui tiga pendekatan utama:
- Qira’ah (Membaca): Fokus pada pelafalan teks ayat-ayat suci.
- Tilawah (Mengkaji): Tingkatan yang lebih dalam, tidak hanya membaca tetapi juga berusaha memahami makna dan tafsirnya.
- Tahfidz (Menghafal): Upaya menjaga ayat-ayat Allah dalam ingatan dan hati.
Baca juga : Puasa Sebagai Disiplin Ruhani: 4 Nilai Utama dari Bulan Suci Ramadhan
Kualitas di Atas Kuantitas: Jangan Takut Terbata-bata
Dalam mengejar target amalan Ramadhan, seringkali kita terjebak pada kuantitas dan melupakan kualitas. Peristiwa Jibril menyimak bacaan Nabi mengajarkan pentingnya talaqqi atau belajar di hadapan guru untuk memastikan kebenaran bacaan.
Islam sangat menghargai proses. Bagi Anda yang masih terbata-bata dalam membaca Al-Qur’an, jangan berkecil hati. Rasulullah SAW menjanjikan dua pahala sekaligus: satu pahala untuk huruf yang dibaca, dan satu pahala lagi untuk kesungguhan dan kesulitan yang dihadapi saat belajar.
Maka, jauh lebih mulia membaca satu halaman sehari dengan tajwid yang benar dan didampingi guru, daripada mengejar target khatam berkali-kali namun dengan bacaan yang serampangan dan merusak makna. Namun, bagi yang sudah fasih, tentu memperbanyak khatam (misalnya 3-4 kali sebulan) adalah keutamaan yang sangat dianjurkan.

Al-Qur’an sebagai Sumber Energi Jiwa
Mengapa Nabi begitu menekankan Al-Qur’an di bulan ini? Karena Al-Qur’an adalah ‘nutrisi’ terbaik bagi jiwa yang sedang berpuasa.
- Penenang Hati: Di tengah hiruk pikuk dunia, Al-Qur’an adalah sumber sakinah (ketenangan) yang sejati.
- Solusi Masalah: Para ulama menasihatkan, saat pikiran buntu oleh masalah, berwudhulah dan bacalah mushaf. Ketenangan yang dihasilkannya seringkali membuka jalan pikiran untuk menemukan solusi.
- Syafaat di Akhirat: Ia adalah investasi abadi yang akan datang sebagai pembela bagi pembacanya di hari kiamat nanti.
Sempurnakan Bacaan dengan Kedermawanan Bersama Lazismu
Mari kembali pada hadis di awal. Perhatikan korelasinya: Interaksi intens Nabi dengan Jibril (membaca Al-Qur’an) berbanding lurus dengan meningkatnya kedermawanan beliau.
Ini mengajarkan kita bahwa bacaan Al-Qur’an yang benar seharusnya melembutkan hati. Kesalehan ritual (ibadah pribadi) harus membuahkan kesalehan sosial (kepedulian pada sesama). Ramadhan tidak akan sempurna jika kita hanya sibuk dengan mushaf kita sendiri sementara tetangga atau saudara seiman masih kelaparan.
Jadikan Ramadhan tahun ini lebih bermakna dengan menyeimbangkan keduanya. Basahi lisan dengan Al-Qur’an, dan ringan kan tangan dengan bersedekah.
Untuk memastikan kedermawanan Anda—baik itu Zakat, Infaq, maupun Sedekah—dikelola secara profesional dan sampai kepada yang berhak, Lazismu Jawa Tengah siap menjadi mitra kebaikan Anda.
Di era digital ini, berbagi menjadi semakin mudah. Anda dapat menyalurkan ZIS Anda kapan saja dan di mana saja melalui platform donasi resmi Lazismu Jateng di lazismupeduli.id. Mari sempurnakan ibadah Ramadhan dengan memberi bukti nyata kepedulian.











Tinggalkan Komentar