Suasana khusyuk menyelimuti Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Jawa Tengah pada peringatan Nuzulul Quran di bulan Ramadhan tahun ini. Momen turunnya kitab suci umat Islam ini diisi dengan tausyiah yang komprehensif oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Dr. KH. Tafsir, M.Ag.
Dalam kajiannya, Kyai Tafsir tidak sekadar mengajak para jamaah untuk merenungkan makna historis turunnya Al-Qur’an. Beliau juga mengajak umat untuk melakukan introspeksi tajam terhadap kondisi riil umat Islam di era modern, membedah persoalan dari kacamata teologis, sosiologis, politik, hingga pentingnya kemandirian ekonomi.
Baca juga : Bukan Sekadar Menahan Lapar: Memaknai Sejarah Turunnya Syariat Puasa Ramadan
Menerima Wahyu dengan Iman dan Berdakwah dengan Kreativitas
Di awal tausyiahnya, Kyai Tafsir menggarisbawahi sebuah prinsip fundamental dalam beragama: wahyu harus diterima dengan iman, bukan semata-mata dengan akal. Akal manusia memiliki keterbatasan dan ruang lingkup yang sempit dalam menjangkau dimensi ketuhanan. Oleh sebab itu, keimananlah yang menjadi kunci mutlak bagi seorang Muslim dalam meyakini kebenaran wahyu Allah.
Namun, dalam tataran sosiologis dan dakwah, pendekatan yang digunakan tentu berbeda. Bagaimana ajaran Islam dapat diterima secara luas oleh masyarakat sangat membutuhkan kreativitas. Kyai Tafsir mengambil contoh sejarah panjang islamisasi di tanah Jawa. Beliau memaparkan bahwa penyebaran Islam yang masif pada masa lalu sangat dipengaruhi oleh strategi pendekatan kekuasaan dan kultural, salah satunya dimulai dari “Islam-nya raja”.
Ketika seorang penguasa atau raja memeluk Islam, masyarakat di bawah struktur kekuasaan tersebut secara otomatis akan mengikutinya. Hal ini membuktikan bahwa faktor kekuasaan dan kreativitas dalam metode dakwah sangat krusial agar syiar Islam mudah diterima oleh masyarakat pada masanya.
Akar Masalah Umat: Ketertinggalan Ekonomi dan Penguasaan Teknologi
Meskipun mewarisi sejarah peradaban yang gilang-gemilang, Kyai Tafsir memberikan evaluasi yang jujur terkait kondisi umat saat ini. Beliau menyoroti bahwa pada kenyataannya, saat ini umat Islam secara umum mengalami kekalahan telak di bidang penguasaan teknologi informasi dan kekuatan ekonomi.
Dampak dari ketertinggalan ini sangat nyata. Di kancah global, umat Islam kerap menjadi pihak yang rentan untuk didikte dan dipermainkan oleh hegemoni kekuatan asing. Kyai Tafsir mencontohkan bagaimana figur pemimpin global seperti Donald Trump dapat dengan mudah mengambil kebijakan yang merugikan kepentingan dunia Islam tanpa mendapat perlawanan yang sepadan.

Beliau menegaskan, umat Islam perlu menyadari pentingnya berkuasa dan memiliki pengaruh agar tidak terus-menerus dipermainkan oleh bangsa lain. Syarat mutlak untuk meraih posisi tawar tersebut adalah dengan membangun kekuatan ekonomi yang kokoh. Jika akar ekonomi lemah, maka kelemahan di sektor lain akan mengikuti.
Contoh paling memilukan dari ketidakberdayaan ini adalah masalah Palestina. Upaya untuk memerdekakan bumi Palestina dari penjajahan hingga detik ini belum juga berhasil. Hal tersebut tidak lepas dari realitas bahwa negara-negara Muslim belum memiliki cengkeraman politik dan ekonomi yang dominan di percaturan global. Kondisi makro ini juga tercermin di dalam negeri. Secara tegas, Kyai Tafsir menyebutkan bahwa umat Islam di Indonesia pada dasarnya masih lemah secara posisi karena fondasi ekonomi umat yang memang belum kuat.
Baca juga : Kado Ramadhan: Menebar Senyum dan Keberkahan Bersama Lazismu
Mensyukuri Sejarah Pembukuan dan Hadirnya Mushaf Al-Qur’an
Di balik berbagai tantangan duniawi yang membelit umat, Kyai Tafsir mengajak jamaah Masjid At-Taqwa untuk senantiasa mengucap syukur kepada Allah SWT atas karunia kitab suci Al-Qur’an. Kita patut bersyukur bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang teks dan panduannya sangat jelas, utuh, serta otentik dalam wujud mushaf resmi Utsmani.
Kyai Tafsir kembali membangkitkan memori jamaah tentang sejarah panjang pembukuan Al-Qur’an. Pada zaman Kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, banyak sahabat yang merupakan penghafal Al-Qur’an (huffadz) gugur di medan perang, salah satunya di Perang Yamamah. Menyadari bahaya hilangnya ayat-ayat Allah, sahabat Umar bin Khattab datang mengusulkan kepada Abu Bakar agar Al-Qur’an segera dikumpulkan dan dibukukan.
Proses pengumpulan ini kemudian berlanjut dan mencapai titik kesempurnaannya pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Di era inilah mushaf Al-Qur’an mulai disusun ulang secara resmi, diseragamkan, dan digandakan untuk disebar ke penjuru wilayah Islam demi menghindari perpecahan terkait cara membaca (qira’at).
“Umat Islam harus berterima kasih kepada Zaid bin Tsabit yang bertindak sebagai ketua panitia pengumpulan Al-Qur’an, dan yang terpenting bersyukur kepada Allah karena umat Islam hari ini memiliki mushaf Al-Qur’an tunggal,” papar Kyai Tafsir.
Kendati demikian, Kyai Tafsir memberikan penekanan bahwa walau umat Islam dipersatukan oleh mushaf yang tunggal, nyatanya kita tidak memiliki terjemahan dan tafsir yang tunggal. Keberagaman pemahaman dan tafsir inilah yang justru membuktikan dinamisnya Al-Qur’an dalam menjawab tantangan akal dan perbedaan zaman, tentunya dengan tetap berpegang pada kaidah ilmu yang benar.

Wujudkan Kebangkitan Ekonomi Umat Bersama Lazismu Jateng
Berkaca dari refleksi yang disampaikan oleh Kyai Tafsir mengenai betapa lemahnya posisi umat Islam Indonesia akibat ketertinggalan ekonomi, sudah saatnya kita beranjak dari sekadar meratapi keadaan menuju aksi yang nyata. Kemandirian dan kekuatan ekonomi umat tidak dapat dibangun secara individual, ia membutuhkan ta’awun (sikap saling tolong-menolong) dan gerakan kolektif.
Islam telah membekali kita dengan instrumen filantropi yang luar biasa untuk mengentaskan kelemahan ekonomi ini, yakni melalui Zakat, Infaq, dan Sadaqah (ZIS). Di sinilah Lazismu Jateng hadir mendampingi Anda. Sebagai lembaga amil yang profesional dan terpercaya, Lazismu Jateng terus berkomitmen menghimpun, mengelola, dan mendistribusikan dana umat agar menjadi program pemberdayaan ekonomi riil yang mengangkat derajat masyarakat kecil.
Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, mari wujudkan kepedulian Anda. Kini berdonasi menjadi sangat praktis dan transparan melalui lazismupeduli.id. Platform donasi dan ZIS online resmi dari Lazismu Jateng ini memudahkan Anda untuk menyalurkan zakat dan sedekah dari mana saja dan kapan saja.
Kunjungi lazismupeduli.id sekarang, salurkan donasi Anda, dan mari kita bersama-sama membangun kemandirian agar umat tidak lagi lemah secara ekonomi













Tinggalkan Komentar