SEMARANG – Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Jawa Tengah kembali menggelar kegiatan strategis demi meningkatkan kapasitas sumber daya manusianya. Bertajuk “Sekolah Amil Kelas Fundraising 2026”, kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Candi Indah, Semarang, pada Senin (26/1/2026). Agenda ini menjadi momentum penting bagi para amil untuk memperdalam pemahaman mengenai materi Kemuhammadiyahan serta etika filantropi yang menjadi napas pergerakan lembaga.
Dalam sesi tersebut, Wakil Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Tengah, Ikhwanusoffa, hadir sebagai pemateri pertama. Di hadapan para peserta yang merupakan pegiat fundraising, Ikhwanusoffa tidak hanya berbicara mengenai teknis penghimpunan dana, melainkan menukik tajam pada aspek fundamental ideologi dan spiritualitas seorang amil.
Baca juga : Tingkatkan Kapasitas dan Profesionalitas, Lazismu Jateng Gelar Sekolah Amil Fundraising 2026
Tujuan utama dari sesi ini adalah menanamkan pemahaman bahwa nilai-nilai Kemuhammadiyahan merupakan fondasi utama gerakan zakat. Para peserta diharapkan tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki etika filantropi yang profesional, amanah, dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.
Dalam pemaparannya, Ikhwanusoffa menekankan bahwa menjadi bagian dari Lazismu bukanlah sekadar pekerjaan biasa. Ia mengingatkan peserta untuk meluruskan niat sebelum melangkah lebih jauh dalam tugas-tugas kemanusiaan ini.

“Bekerja di Lazismu bukan sekadar profesi, tapi amanah iman. Luruskan niat, jangan sibuk bertanya gaji dan insentif. Niatkan mengurusi agama Allah. Mulai dengan bismillah, lanjutkan dengan istiqamah,” ujar Ikhwanusoffa dengan tegas di hadapan peserta.
Lebih lanjut, Ikhwanusoffa menjelaskan bahwa tantangan terbesar seorang amil sering kali bukan pada aspek fisik, melainkan aspek mental dan spiritual. Menurutnya, mengajak orang lain untuk berbuat baik memiliki bobot kesulitan tersendiri dibandingkan melakukannya sendiri.
“Menunaikan zakat itu berat, tapi mengajak orang berzakat jauh lebih berat. Maka, jangan pernah melepas tauhid meski lelah dalam perjuangan,” tambahnya.
Ia juga menyoroti ujian terberat bagi para pegiat Lazismu, yakni kemampuan untuk mengimani qadha dan qadar Allah dalam setiap langkah perjuangan. Hal ini berkaitan erat dengan mentalitas seorang amil yang tidak boleh ambisius dalam mengejar jabatan, namun harus siap sedia ketika tugas memanggil.
Secara tidak langsung, Ikhwanusoffa menyampaikan bahwa amanah tidak semestinya dicari-cari. Namun, ketika perintah sudah turun, seorang kader harus siap menjalankannya dengan penuh tanggung jawab tanpa keraguan. Integritas inilah yang menjadi kunci etika filantropi Islam.
Selain aspek spiritual, Ikhwanusoffa juga membedah relevansi gerakan zakat dengan kondisi sosial masyarakat hari ini. Ia menyoroti pergeseran tantangan umat yang tidak lagi sekadar urusan perut, melainkan akses terhadap hak-hak dasar lainnya.
“Tantangan umat hari ini bukan soal makan, tapi tidak bisa sekolah dan tidak mampu berobat. Di sinilah peran zakat menjadi nyata,” jelasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dana zakat harus dikelola secara profesional agar dampaknya bisa dirasakan dalam sektor pendidikan dan kesehatan, bukan hanya bantuan konsumtif sesaat. Hal ini sejalan dengan visi Islam Berkemajuan yang diusung oleh Muhammadiyah. Dalam konteks ini, Ikhwanusoffa mengingatkan agar tidak ada pegawai Muhammadiyah yang menjelekkan persyarikatan, karena Islam berkemajuan di Indonesia saat ini tidak bisa dilepaskan dari peran besar Muhammadiyah.
Proses kegiatan berjalan dengan lancar dan kondusif. Para peserta Sekolah Amil Fundraising tampak antusias menyimak materi. Suasana kelas menjadi hidup ketika para peserta aktif mencatat poin-poin penting dan melontarkan pertanyaan. Tercatat, terdapat tiga pertanyaan kritis mengenai pengelolaan dan hukum Zakat yang diajukan oleh peserta, yang kemudian dijawab secara komprehensif oleh pemateri. Diskusi ini memperkaya wawasan teknis sekaligus menguatkan pemahaman fikih para amil muda tersebut.
Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan amil-amil yang tidak hanya cerdas dalam strategi fundraising, tetapi juga kokoh dalam tauhid dan loyalitas terhadap persyarikatan.











Tinggalkan Komentar