SEMARANG – Dalam upaya meningkatkan standar profesionalisme pengelolaan dana ziswaf, Sekolah Amil Fundraising menyelenggarakan pelatihan khusus bertajuk “Service Excellence”. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Candi Indah, Semarang, pada Selasa (27/1/2026) ini menghadirkan pakar layanan perbankan dari Bank BRI Regional Jawa Tengah sebagai pemateri utama.
Sinergi ini bertujuan untuk membekali para amil agar memiliki standar pelayanan yang setara dengan sektor perbankan profesional. Ibu Nino dan Bapak Taufik dari BRI hadir memberikan pemaparan komprehensif mengenai strategi pelayanan publik, kepuasan nasabah (dalam hal ini muzakki), serta standar fisik dan sikap dalam melayani.
Dalam sesi pemateriannya, Ibu Nino menekankan bahwa layanan prima tidak hanya soal komunikasi, tetapi juga mencakup aspek fisik dan kualitas sumber daya manusia (SDM). Ia menjelaskan bahwa aspek fisik seperti kebersihan, kenyamanan, kelengkapan fasilitas, serta kemudahan akses kantor menjadi impresi pertama yang dirasakan oleh muzakki.
“Profesionalisme pelayanan publik diukur dari bagaimana kita mampu menjaga standar layanan demi mencapai kepuasan nasabah. Bagi petugas garda depan atau Front Office, sangat penting untuk selalu memperbarui informasi produk agar dapat memberikan edukasi yang tepat kepada muzakki,” ujar Ibu Nino saat memaparkan materi.
Lebih lanjut, beliau membedah aspek people yang terdiri dari sikap (attitude), keahlian (skill), dan penampilan. Dari sisi penampilan, hal-hal detail seperti penggunaan riasan yang wajar, pakaian rapi, penggunaan tanda pengenal, hingga kerapian meja kerja menjadi sorotan utama dalam membentuk citra lembaga yang terpercaya.
Pentingnya Sikap Profesional dan Penggunaan Magic Words
Tak hanya penampilan fisik, peserta juga diajak mendalami faktor pendukung sikap profesional yang meliputi ekspresi, postur, dan gestur. Ibu Nino mengingatkan bahwa senyum yang tulus dan kontak mata yang terjaga adalah kunci pembuka komunikasi yang efektif. Gestur tubuh harus terbuka dan menyambut, sementara postur harus tegap menghadap orang yang dilayani.
Salah satu poin menarik dalam pelatihan ini adalah penggunaan “Magic Words” atau kata-kata ajaib dalam berkomunikasi. Kata-kata seperti “bisa”, “tolong”, “moaf”, “mohon”, “mari saya bantu”, dan “terima kasih” harus menjadi budaya lisan para amil.
“Pilihan kata yang tepat dapat meminimalisir potensi konflik. Seringkali komplain muncul bukan karena masalah teknis, melainkan karena muzakki merasa tidak dipedulikan atau pemberi layanan menggunakan pilihan kata yang kurang tepat,” jelas Ibu Nino secara tidak langsung dalam sesinya.
Strategi Penanganan Keluhan (Handling Complaint)
Menutup sesi, peserta diberikan simulasi mengenai Handling Complaint. Ibu Nino memberikan panduan praktis jika menghadapi keluhan, yakni dengan menenangkan diri terlebih dahulu, menyimak keluhan dengan saksama tanpa memotong pembicaraan, menyatakan permohonan maaf dengan tulus, dan segera mengajukan solusi yang konkret.
Melalui pelatihan ini, diharapkan peserta Sekolah Amil Fundraising mampu mengimplementasikan standar Service Excellence sehingga kepercayaan publik terhadap pengelolaan zakat semakin meningkat melalui pelayanan yang humanis namun tetap profesional.
Tinggalkan Komentar