Memperingati Isra’ Mi’raj: Meneguhkan Iman dan Menjaga Shalat

Memperingati Isra Miraj

Tanggal 27 bulan Rajab merupakan hari yang sangat bersejarah bagi umat Islam. Bertepatan dengan tanggal 16 Januari 2026, hari tersebut menandai peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina (Isra’), kemudian dilanjutkan dengan perjalanan naik ke langit ketujuh hingga Sidratul Muntaha, tempat beliau menerima perintah shalat lima waktu (Mi’raj). Peristiwa ini diperkirakan terjadi pada rentang tahun 620–621 Masehi. Isra’ Mi’raj juga tercantum dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT dalam (QS. Al-Isra’: 1) yang artinya: “Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Baca juga : Keistimewaan Bulan Rajab Berdasarkan Al-Quran dan Sunnah

Peristiwa Isra’ Mikraj sebagai cermin iman

Isra’ Mi’raj memiliki banyak hikmah dan pelajaran bagi umat Islam. Salah satunya adalah sebagai pengukuhan iman, karena umat Islam dituntut untuk mempercayai peristiwa yang melampaui batas akal pikiran manusia. Pada masa Rasulullah SAW, banyak sahabat yang diuji keimanannya dengan peristiwa ini. Sebagian di antara mereka meragukan dan mempertanyakan kebenarannya karena dianggap tidak masuk akal. Namun, ada pula sahabat yang meyakini sepenuh hati kebenaran Isra’ Mi’raj, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sikap inilah yang patut dijadikan cerminan sejauh mana kualitas iman kita, sehingga momentum Isra’ Mi’raj menjadi ajakan untuk menata kembali keimanan. Bagi Allah SWT yang menciptakan seluruh alam semesta, tentu tidak ada sesuatu pun yang mustahil dan berada di luar kekuasaan-Nya.

Shalat sebagai inti sari dari Isra’ Mi’raj

Berbeda dengan ibadah lainnya, perintah shalat tidak diturunkan melalui malaikat Jibril di bumi, melainkan disampaikan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW di Sidratul Muntaha. Hal ini menunjukkan betapa agung dan istimewanya shalat dalam ajaran Islam. Meskipun pada awalnya diwajibkan sebanyak lima puluh waktu, atas kasih sayang Allah SWT kewajiban tersebut diringankan menjadi lima waktu sehari semalam, namun dengan pahala yang tetap bernilai lima puluh. Oleh karena itu, menjaga shalat bukan sekadar menjalankan kewajiban, tetapi juga menjadi bukti ketaatan dan kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya.

Memperingati Isra’ Mikraj menurut Muhammadiyah

Dalam memperingati hari besar ini, hendaknya umat Islam mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Momentum Isra’ Mi’raj juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang dakwah. Pandangan Muhammadiyah terkait peringatan Isra’ Mi’raj pada dasarnya sama dengan peringatan Maulid Nabi, yaitu diperbolehkan dan tidak termasuk perbuatan bid’ah, selama tidak disertai ritual atau bentuk ibadah khusus yang tidak memiliki dasar dari ajaran Rasulullah SAW.

Dikutip dari muhammadiyah.or.id, Wakil Ketua Lembaga Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Tri Sundani, menjelaskan bahwa “peringatan Isra’ Mi’raj dalam putusan Muhammadiyah tidak termasuk bid’ah karena termasuk ibadah muamalah. Namun, dalam Muhammadiyah tidak terdapat ritual-ritual tertentu. Peringatan tersebut hanya dimanfaatkan untuk tabligh akbar, diskusi, bedah buku, dan kegiatan lain yang mengungkap makna Isra’ Mi’raj.”Hal ini juga sejalan dengan kebijakan PP Muhammadiyah yang tertuang dalam Tanfidz Keputusan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah (Muktamar ke-46) tahun 2010 di Yogyakarta. Di situ disebutkan salah satu poin, yaitu “melaksanakan pengajian-pengajian umum dalam memperingati hari besar Islam sesuai tema peristiwa.” 

Apa yang dapat disimpulkan dari Isra’ Mi’raj?

Peringatan Isra’ Mi’raj hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa sejarah semata, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat keimanan dan meningkatkan kualitas ibadah, khususnya shalat lima waktu. Shalat yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan akan membentuk pribadi muslim yang disiplin, berakhlak, dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui pemaknaan Isra’ Mi’raj yang tepat dan diisi dengan kegiatan dakwah yang mencerahkan, diharapkan umat Islam mampu menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman hidup yang berkemajuan serta membawa kemaslahatan bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Referensi :
https://muhammadiyah.or.id/2024/01/memperingati-peristiwa-isra-miraj-bukan-amalan-bidah/
https://muhammadiyah.or.id/2021/03/memaknai-isra-miraj/
https://muhammadiyah.or.id/2021/03/hukum-mengikuti-perayaan-isra-miraj-menurut-muhammadiyah/

Oleh: Muhammad Sulthan Daffa Alfathans