Bedah Potensi Muzaki, Lazismu Jateng Dorong Strategi Kolaborasi dan Manajemen Zakat Institusi

Manajemen Zakat Institusi & Potensi Muzaki: Sekolah Amil 2026

SEMARANG – Rangkaian kegiatan “Sekolah Amil Kelas Fundraising 2026” yang digelar oleh Lazismu Jawa Tengah di Hotel Candi Indah, Semarang, pada Senin (26/1/2026), terus berlanjut dengan materi yang semakin mendalam. Pada sesi kedua, fokus pembahasan beralih pada strategi teknis dalam memetakan potensi muzaki serta tata kelola pengumpulan zakat dari sektor institusional.

Hadir sebagai pemateri dalam sesi ini adalah Manajer Operasional Lazismu Jawa Tengah, Samsudin, S.Sos., M.M. Di hadapan para peserta, Samsudin membedah tantangan dan peluang dalam ekosistem filantropi modern. Tujuan utama dari sesi ini adalah mencetak amil yang tidak hanya memiliki semangat, tetapi juga kemampuan analitis dalam mengumpulkan, mengklasifikasikan, dan menganalisis data potensi muzaki sesuai wilayah kerja masing-masing.

Baca juga Tingkatkan Kapasitas dan Profesionalitas, Lazismu Jateng Gelar Sekolah Amil Fundraising 2026

Dalam pemaparannya, Samsudin menekankan pentingnya pelayanan prima terhadap donatur. Menurutnya, hubungan antara lembaga amil dan muzaki tidak boleh berhenti pada saat transaksi donasi selesai. Ia menyarankan adanya mekanisme umpan balik untuk menjaga kualitas layanan.

“Kita perlu survei kepuasan donatur, untuk dapat feedback dan evaluasi pelayanan. Hal ini penting agar kita tahu di mana letak kekurangan dan apa yang perlu ditingkatkan,” ungkap Samsudin.

Lebih jauh, Samsudin menyoroti pentingnya penerapan bauran pemasaran (Marketing Mix) dalam aktivitas fundraising, khususnya aspek People (SDM) dan Product (Program). Ia menegaskan bahwa kapasitas seorang amil (People) adalah kunci. Jika seorang amil tidak memiliki pengetahuan produk (product knowledge) yang mumpuni mengenai program atau hukum zakat, maka kepercayaan calon donatur akan sulit diraih.

“Ketika kita tidak bisa menjelaskan knowledge program atau zakat, maka selesai. Orang tidak mau berzakat. Maka, penting untuk memahami knowledge program secara mendalam,” tegasnya. Selain itu, aspek Product juga krusial; lembaga harus memiliki kejelasan produk dan mampu menjelaskannya dengan narasi yang meyakinkan.

Selain membahas pendekatan individual, forum ini juga mengupas tuntas mengenai strategi Mengelola Pengumpulan Zakat Institusi. Samsudin menjelaskan bahwa pendekatan ke institusi atau korporat memerlukan strategi kolaborasi yang matang, mulai dari manajemen basis data, media informasi, perhitungan zakat perusahaan, hingga pengelolaan program yang transparan (Output dan Outcome).

Ia mengakui bahwa rendahnya kesadaran berzakat di level korporasi sering kali menjadi kendala. Oleh karena itu, kolaborasi institusi menjadi solusi yang tidak bisa ditawar.

“Kita tidak berjalan sendiri, kita perlu evaluasi dan tambahan untuk memaksimalkan kerjasama dengan corporate,” ujar Samsudin menekankan pentingnya sinergi.

Sisi spiritualitas dalam pelayanan juga tidak luput dari pembahasan. Samsudin mengingatkan para peserta tentang adab menerima zakat. Ia meminta para amil untuk mendoakan muzaki secara menghayati, bukan sekadar formalitas lisan. Selain itu, konfirmasi kepada donatur—baik untuk menanyakan kebutuhan bantuan atau sekadar menyapa—menjadi teknik engagement yang sangat disarankan.

Sesi berjalan sangat interaktif. Peserta tampak aktif mencatat poin-poin diskusi yang meliputi pemetaan potensi, pengelolaan zakat institusi, hingga pengendalian pengumpulan. Antusiasme peserta terlihat jelas ketika sesi tanya jawab dibuka. Salah satu peserta mengajukan pertanyaan krusial mengenai “Bagaimana cara mengikat muzaki supaya terus berdonasi di Lazismu?”.

Menjawab hal tersebut, Samsudin kembali menekankan pada kepuasan layanan dan transparansi laporan sebagai kunci retensi donatur. Kegiatan ini diharapkan mampu membekali peserta dengan kompetensi teknis yang mumpuni untuk mengelola potensi zakat yang besar di Jawa Tengah, baik dari perorangan maupun institusi.