Waktu berlalu begitu cepat. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW bahwa akan tiba masa di mana perjalanan waktu terasa sangat singkat, hingga tanpa terasa ibadah puasa kita kini sudah memasuki fase paling krusial, yakni 10 hari terakhir Ramadhan. Di momen penghujung bulan suci ini, umat Islam dianjurkan untuk semakin meningkatkan kuantitas ibadahnya demi meraih keutamaan 10 hari terakhir Ramadhan yang penuh dengan ampunan dan keberkahan.
Dalam menyambut fase penentu ini, panduan amalan yang kita jalankan haruslah berdasarkan rujukan utama dari Kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Sangat penting bagi umat Islam untuk mengikuti panduan ibadah yang memiliki jalur periwayatan (sanad) yang jelas dan valid hingga ke Nabi Muhammad SAW. Tujuannya adalah agar orisinalitas ajaran Islam tetap terjaga dan tidak ada ruang untuk mengarang ibadah sendiri. Mari kita telusuri apa saja amalan 10 hari terakhir Ramadhan yang dipraktikkan langsung oleh Rasulullah.
Baca juga : Rahasia Kedahsyatan Istighfar di Waktu Sahur: Amalan Penarik Rezeki dan Kedamaian Hati
3 Amalan Utama Nabi SAW di 10 Hari Terakhir Ramadhan
Sebagian besar hadis mengenai aktivitas privat Nabi Muhammad SAW di 10 malam terakhir diriwayatkan oleh istri beliau tercinta, Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Fakta sejarah ini sekaligus menjadi bukti nyata bagaimana ajaran Islam sangat memuliakan perempuan serta mengangkat derajat intelektualitas dan spiritualitas mereka dalam merekam jejak kenabian.
Berdasarkan riwayat shahih dari Sayyidah Aisyah, terdapat tiga kebiasaan atau amalan utama yang sangat ditekankan oleh Nabi Muhammad SAW ketika memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan:
1. Mengencangkan Ikat Pinggang atau Sarung (Syadda mi’zarahu)
Tindakan ini merupakan sebuah kiasan bahwa Nabi SAW sementara waktu berpisah dari istri-istrinya (tidak melakukan hubungan suami-istri) agar bisa fokus secara penuh pada ibadah. Beliau rela mengorbankan rutinitas harian yang nyaman di rumah demi mengejar kemuliaan luar biasa yang hanya datang satu kali dalam setahun. Sikap gigih ini patut kita teladani agar ibadah di akhir Ramadhan tidak terpecah oleh urusan duniawi.
2. Menghidupkan Malam (Ahya lailahu)
Jika di siang hari umat Islam diwajibkan untuk berpuasa, maka di 10 hari terakhir ini Nabi SAW secara sungguh-sungguh (ijtihad) menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah yang berlimpah. Beliau mengurangi porsi istirahat malam demi meningkatkan kualitas ibadah seperti shalat tahajud, tilawah Al-Qur’an, dan memperbanyak doa ampunan. Menghidupkan malam Ramadhan adalah kunci utama untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan menjemput rahmat-Nya.
3. Membangunkan Keluarga (Aiqadha ahlahu)
Rasulullah SAW adalah sosok pemimpin keluarga yang luar biasa; beliau tidak ingin meraih kemuliaan Ramadhan itu sendirian. Nabi SAW senantiasa memberikan isyarat dan membangunkan keluarganya agar turut serta menghidupkan malam dengan beribadah. Ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa mengajak keluarga beribadah adalah bagian dari tanggung jawab spiritual yang tidak boleh diabaikan.

Dua Target Utama di Penghujung Ramadhan
Ada agenda dan kegiatan luar biasa yang membuat Nabi SAW sangat memfokuskan dirinya di fase akhir bulan suci ini. Dua keistimewaan utama yang senantiasa dikejar oleh umat Islam adalah:
1. Memburu Malam Lailatul Qadar
Mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadar adalah fokus utama dari setiap muslim yang beribadah di bulan ini. Malam istimewa ini dijanjikan oleh Allah SWT memiliki nilai pahala yang lebih baik dari seribu bulan. Syarat mutlak untuk mendapatkan keutamaannya adalah dengan bangun dan beribadah di malam hari.
Kabar baiknya, perburuan malam mulia ini tidak selalu mensyaratkan seseorang harus berada di masjid secara fisik. Bagi umat Islam yang memiliki udzur atau halangan (seperti sakit atau merawat anak), menghidupkan malam dengan shalat, dzikir, dan tilawah di rumah pun tetap memiliki peluang besar untuk meraih rahmat Lailatul Qadar.
2. Melaksanakan Iktikaf di Masjid
Iktikaf merupakan ibadah sunnah istimewa yang sangat ditekankan pemenuhannya di 10 hari terakhir Ramadhan. Namun, perlu diluruskan bahwa iktikaf di masjid bukan sekadar memindahkan tempat tidur, arena mengobrol, atau tempat makan ke lingkungan masjid. Lebih dari itu, iktikaf adalah sebuah proses spiritual yang memiliki makna mendalam. Tujuannya adalah untuk membentuk karakter diri, menjauhi hingar-bingar duniawi sejenak, dan fokus bermuhasabah memohon ampunan kepada Allah SWT.
Sempurnakan Amalan 10 Hari Terakhir Ramadhan
Momen 10 hari terakhir Ramadhan adalah masa keemasan di mana kita harus melipatgandakan kesungguhan ibadah kita. Dengan meneladani Nabi Muhammad SAW yang mengerahkan seluruh kefokusannya, mari kita manfaatkan sisa waktu ini dengan menghidupkan malam-malamnya, beriktikaf, dan memburu kemuliaan Lailatul Qadar yang nilainya tiada banding.
Selain memperbanyak ibadah vertikal kepada Allah SWT, menyempurnakan ibadah Ramadhan juga idealnya diiringi dengan ibadah sosial seperti memperbanyak sedekah Ramadhan dan menunaikan zakat. Kedermawanan adalah salah satu wujud nyata dari suksesnya ibadah puasa seseorang.
Di era digital saat ini, menunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) menjadi sangat mudah, cepat, dan transparan. Bagi Anda yang ingin menyalurkan kebaikan di penghujung Ramadhan ini agar pahala semakin berlipat, Anda dapat mempercayakannya melalui lembaga tepercaya seperti Lazismu Jateng. Sempurnakan amalan dan kejar keberkahan akhir Ramadhan dengan berdonasi secara aman dan online melalui platform resmi lazismupeduli.id. Mari wujudkan kepedulian bersama dan raih kemenangan sejati di hari raya yang fitri.












Tinggalkan Komentar