SEMARANG – Lazismu Wilayah Jawa Tengah terus berupaya memperkuat kapasitas para pejuang zakat melalui kegiatan “Pematerian Integrasi Fundraising & Digital Mindset serta Arah Fundraising Zakat Modern”. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Candi Indah, Semarang, pada Selasa (27/01/2026) ini menjadi momentum krusial bagi para peserta Sekolah Amil Fundraising untuk menyongsong tata kelola zakat yang lebih adaptif dan profesional.
Hadir sebagai pemateri utama, Manajer Area Lazismu Jawa Tengah, Suprapto, menekankan bahwa di era disrupsi saat ini, perubahan pola pikir (mindset) adalah kunci utama. Menurutnya, zakat tidak lagi bisa dikelola dengan cara-cara konvensional semata, melainkan harus bertransformasi menuju sistem yang terintegrasi antara kekuatan lapangan dan ekosistem digital.
Baca juga : Perkuat Loyalitas Muzaki, Sekolah Amil Fundraising 2026 Bedah Strategi Pelayanan di Semarang
Landasan Teologis dan Kolektivitas Kerja
Dalam paparannya, Suprapto mengawali materi dengan penguatan spiritual merujuk pada Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 103 tentang perintah mengambil zakat, serta Hadis Rasulullah SAW yang menjadi fondasi amil. Ia juga menggarisbawahi pentingnya Surah As-Saf ayat 4 sebagai pedoman kerja organisasi.
“Amil harus mampu berjuang dan beramal secara kolektif. Kita berada dalam satu atap yang sama, maka kerja-kerja penghimpunan harus dilakukan bersama-sama secara solid, ibarat satu bangunan yang kokoh,” ujar Suprapto di hadapan puluhan peserta.
Beliau juga menjelaskan alasan filosofis mengapa Lazismu tidak menggunakan kata “menghimpun” secara kaku dalam visi misinya. Menurutnya, visi dan misi harus menjadi jalan pembuka bagi amil untuk secara aktif “memungut” zakat sebagaimana perintah agama, bukan sekadar menunggu kesadaran pasif dari masyarakat.

Transformasi Digital dan Mindset Impact to Income
Salah satu poin utama dalam pelatihan ini adalah pemanfaatan media digital. Suprapto menjelaskan bahwa media digital bukan sekadar alat pelengkap, melainkan pilar strategis agar masyarakat mengenal Lazismu, memahami urgensi zakat, hingga akhirnya memilih Lazismu sebagai lembaga tepercaya.
Tujuan dari materi ini adalah agar peserta memiliki pola pikir fundraising berbasis dampak (impact to income). Dengan kata lain, keberhasilan penghimpunan harus berbanding lurus dengan kemanfaatan yang dirasakan oleh umat. Peserta didorong untuk mampu mengelola situs web secara berkelanjutan dan terintegrasi dengan tim lapangan agar informasi program dapat tersampaikan secara real-time kepada donatur.
Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut (RTL)
Sesi berikutnya dilanjutkan dengan Review Pelatihan dan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Dalam sesi ini, peserta dievaluasi mengenai sejauh mana efektivitas metode fundraising yang telah diterapkan di daerah masing-masing. Suprapto menegaskan bahwa pelayanan unggul kepada muzaki adalah harga mati.
“Perbaiki layanan, jaga konsistensi pelayanan unggul, dan jangan ragu untuk mendatangi muzaki. Tugas pertama seorang amil adalah mengabarkan kepada muzaki hingga mereka mencapai titik kesadaran untuk berzakat,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa amil yang ideal adalah pribadi yang dapat dipercaya, menjaga ibadah shalatnya, serta profesional dalam mengurus administrasi zakat. Untuk memastikan keberlanjutan program, Lazismu Wilayah akan melakukan pendampingan intensif terhadap kompetensi amil dan pengelolaan aset digital di setiap daerah.
Acara ditutup dengan pemutaran video motivasi yang mengusung pesan pantang menyerah. Suprapto berpesan agar seluruh amil terus mencoba memberikan yang terbaik hingga batas kemampuan akhir. Melalui pelatihan ini, setiap daerah diharapkan memiliki rencana konkret yang memadukan aktivitas offline dan online demi kemaslahatan umat yang lebih luas.











Tinggalkan Komentar