Perkuat Literasi Amil, Lazismu Jateng Bedah Strategi Digital Fundraising di Semarang.

Materi Digital Fundraising Erwan Sudiwijaya di Sekolah Amil Lazismu Jateng.

SEMARANG – Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Wilayah Jawa Tengah terus berupaya melakukan akselerasi kapasitas sumber daya manusia (SDM) di era disrupsi teknologi. Melalui kegiatan Sekolah Amil Fundraising 2026, para praktisi filantropi diajak untuk mendalami materi fondasi digital fundraising guna mengoptimalkan penghimpunan dana umat secara lebih modern dan transparan.

Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (27/1/2026) ini bertempat di Hotel HCI Kota Semarang. Dalam kesempatan tersebut, panitia menghadirkan narasumber ahli, Erwan Sudiwijaya, yang merupakan anggota Divisi Kreatif Digital Pusat Syiar Digital Muhammadiyah (PSDM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kehadirannya secara khusus bertujuan untuk memberikan wawasan strategis mengenai pemanfaatan platform digital dalam ekosistem zakat.

Baca juga : Tingkatkan Kapasitas dan Profesionalitas, Lazismu Jateng Gelar Sekolah Amil Fundraising 2026

Website Sebagai Fondasi Utama

Dalam paparannya di hadapan 26 peserta kelas digital, Erwan Sudiwijaya menekankan bahwa penguasaan teknologi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan bagi lembaga amil. Ia menggarisbawahi bahwa efektivitas digital fundraising sangat bergantung pada kekuatan aset digital yang dimiliki oleh lembaga, terutama situs web resmi.

Menurut Erwan, situs web memiliki peran yang jauh lebih krusial dibandingkan sekadar media informasi searah. Ia menyebutkan bahwa platform tersebut adalah jantung dari seluruh aktivitas kampanye kemanusiaan di dunia maya.

“Website adalah fondasi utama dalam digital fundraising. Ia bukan hanya tempat informasi, tapi alat untuk storytelling yang interaktif, di mana donatur bisa melihat laporan real-time, galeri kisah sukses, dan bahkan donasi langsung. Tanpa website yang kuat, upaya fundraising kita akan kalah bersaing di era digital ini,” tegas Erwan Sudiwijaya saat menyampaikan materi di hadapan peserta.

Ia juga menambahkan bahwa kepercayaan donatur di era digital sangat dipengaruhi oleh kemudahan akses data dan visualisasi program yang ditampilkan secara profesional.

Materi Digital Fundraising Erwan Sudiwijaya di Sekolah Amil Lazismu Jateng.

Pelatihan Praktis dan Analisis Data

Tidak hanya terpaku pada teori, Sekolah Amil Fundraising 2026 ini juga mengedepankan aspek praktis. Sebanyak 26 peserta yang tergabung dalam kelas digital diberikan pelatihan intensif mengenai segmentasi donatur (donor segmentation). Hal ini penting dilakukan agar pesan kampanye yang dikirimkan tepat sasaran dan sesuai dengan profil psikografis para calon muzaki atau donatur.

Selain itu, para amil dibekali kemampuan untuk melakukan analisis media sosial. Erwan menjelaskan secara tidak langsung bahwa data dari media sosial dapat menjadi kompas bagi Lazismu untuk menentukan tren kedermawanan masyarakat saat ini. Peserta juga diajak mempraktikkan pembuatan konten storytelling yang menarik untuk diunggah di platform Instagram dan website Lazismu.

Melalui teknik bercerita yang menyentuh sisi kemanusiaan (humanitarian campaign), diharapkan masyarakat luas dapat lebih tergerak untuk menyalurkan bantuannya melalui lembaga resmi di bawah naungan Muhammadiyah ini.

Membangun Ekosistem Filantropi Modern

Penyelenggaraan acara ini diharapkan mampu melahirkan amil-amil muda yang melek teknologi dan mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku masyarakat dalam berdonasi. Dengan integrasi antara sistem manajemen internal dan platform eksternal yang mumpuni, Lazismu Jawa Tengah optimis target penghimpunan dan pendayagunaan dana ZIS (Zakat, Infak, dan Sedekah) di tahun 2026 dapat tercapai secara maksimal.

Acara yang berlangsung penuh antusiasme ini ditutup dengan sesi simulasi pengelolaan kampanye digital secara langsung. Para peserta diharapkan membawa pulang strategi konkret untuk diimplementasikan di daerah masing-masing, guna memperkuat kemandirian umat melalui inovasi digital fundraising.