Kairo menyambut kami dengan wajah yang tenang, namun udaranya menyapa dengan ketajaman yang tak biasa bagi kulit tropis kami. Pagi itu, Bandara Internasional Kairo tampak lengang. Saat saya melirik layar ponsel, angka 15 derajat Celcius terpampang jelas. Pantas saja, dinginnya terasa menusuk, menyelinap di balik jaket, mengingatkan bahwa kami kini berpijak di benua yang berbeda.
Langkah pertama kami di Mesir diawali dengan sebuah momen unik. Mencari mushalla di bandara sebesar ini ternyata bukan perkara mudah.
“Shalat saja di lantai bandara, tidak masalah kan?” ujar seorang pemandu bandara dengan santai.
Sebuah kejutan budaya kecil di awal perjalanan. Akhirnya, sujud subuh kami tunaikan di pojokan ruang bandara, menyerahkan segala urusan misi ini kepada Sang Pemilik Semesta.
Baca juga : Kemanusiaan dalam Krisis Palestina Lazismu dan Muhammadiyah Bersatu Mengirimkan Bantuan
Pasukan Muda “Sang Surya” di Gerbang Kedatangan
Menjelang pintu keluar, pemandangan yang menyejukkan hati menyambut kami. Di tengah kerumunan asing, tampak sekumpulan anak muda dengan atribut yang sangat kami kenal: Lazismu dan MDMC. Di bach saku mereka tertulis nama mereka dengan sangat jelas: Abdul Rauf, Fahd Abdullah, dan lainya.
Mereka adalah para kader muda Muhammadiyah, mahasiswa PCIM (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah) Mesir yang sedang menimba ilmu di Al-Azhar. Wajah-wajah cerah itu menyalami kami dengan hangat.
“Kami dari PCIM Bapak, kami dari Lazismu Mesir, Ustadz,” sapa mereka.
Melihat mereka, rasa lelah perjalanan seketika sirna. Ini bukan sekadar penjemputan, ini adalah bukti nyata semangat filantropis diaspora kader. Di sela-sela tumpukan kitab dan diktat kuliah, mereka mendedikasikan diri menjadi perpanjangan tangan misi kemanusiaan persyarikatan.
Menuju Jantung Industri di Sharqia
Setelah istirahat sejenak di penginapan daerah Kairo, tepat pukul 10.00 pagi, roda kendaraan kembali berputar. Kali ini tujuan kami cukup jauh, meninggalkan hiruk pikuk Kairo menuju arah timur laut Mesir.
Setelah membelah jalanan selama kurang lebih satu jam, pemandangan gedung-gedung tua Kairo perlahan berganti menjadi kawasan yang lebih terbuka dan terstruktur. Kami memasuki wilayah Provinsi Sharqia (Asy-Syarqiyah), tepatnya menuju Kota Al-Salhiyah Al-Gadidah (New Salhia). Al-Salhiyah Al-Gadidah adalah sebuah kota baru, sebuah kawasan industri dan pertanian modern yang dibangun di tepian gurun. Berbeda dengan Kairo yang padat dan berdebu karena pembangunan, di sini atmosfer produktivitas sangat terasa. Kota ini menjadi rumah bagi pabrik-pabrik besar yang menopang ekonomi Mesir. Di sinilah tujuan utama kami: memastikan kesiapan logistik.

Kehangatan dari Mashna’ al Bathoni
Tujuan pertama kami di kawasan industri Al-Salhiyah Al-Gadidah ini adalah sebuah pabrik selimut atau Mashna’ al Bathoni. Di sini, kami menyaksikan bagaimana kepedulian ditenun. Dari benang mentah, proses penenunan, pewarnaan, hingga menjadi selimut tebal yang siap dikepak ke dalam truk kontainer. Berjam-jam kami di sana, memastikan setiap helai selimut layak untuk menghangatkan saudara-saudara kita di pengungsian Palestina. Selimut ini bukan sekadar kain, ia adalah peluk hangat dari masyarakat Indonesia.
Lumbung Pangan di Tepian Gurun
Hanya berjarak sekitar 30 menit dari pabrik selimut, masih di kawasan Sharqia yang sama, kami meluncur ke salah satu pabrik gandum terbesar di Mesir. Pemandangannya menakjubkan: tumpukan ratusan, mungkin ribuan ton gandum siap angkut. Karung demi karung dinaikkan ke truk kontainer. Saya melihat kesibukan luar biasa di sini. Truk-truk raksasa berbaris rapi, siap mendistribusikan “napas kehidupan” ini.
Saya sempat bertanya kepada seorang petugas, “Apakah semua ini untuk Palestina?” Jawaban petugas tersebut menyadarkan saya tentang luasnya peta penderitaan manusia.
“Tidak hanya Palestina. Ada juga yang dikirim ke Yaman dan Sudan. Tergantung permintaan donatur. Beberapa hari lalu kami baru saja mengirim kontainer ke Yaman yang sedang berkonflik,” jawabnya.
Mas Abdur Rauf, Ketua PCIM Mesir, menambahkan wawasan menarik saat kami berada di sana. Meski Mesir dikenal sebagai negeri gurun dengan curah hujan yang minim—mungkin hanya dua kali setahun—tanah ini diberkahi. Kawasan seperti Sharqia ini membuktikan bahwa Mesir adalah salah satu produsen gandum dan sumber pangan terbesar di Timur Tengah.
Penyambung Lidah di Tengah “Belantara” Bahasa
Di tengah kesibukan kunjungan ini, saya merasa sangat beruntung ditemani oleh tim Lazismu Mesir, PCIM, dan MDMC. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan tulang punggung operasional kami di lapangan. Mereka dengan sigap membantu hal-hal teknis, mulai dari mengurus administrasi hingga membawakan peralatan dokumentasi kami yang cukup berat.
Namun, peran paling krusial mereka adalah sebagai penerjemah. Jujur saja, meskipun saya memiliki latar belakang bahasa Arab, bahasa Arab Fusha (resmi) yang saya pelajari terasa kaku ketika berhadapan dengan Lahjah ‘Amiyah (dialek lokal) Mesir. Bahasa pasaran Mesir ini rumit, cepat, dan penuh istilah khas yang asing di telinga orang non-Mesir.
Di sinilah anak-anak PCIM hadir sebagai penyelamat. Mereka menjadi “penyambung lidah” yang fasih antara kami dengan para pekerja pabrik dan warga lokal. Berkat kecakapan mereka berdiplomasi dalam bahasa setempat, komunikasi berjalan cair tanpa hambatan, memastikan setiap detail informasi kami terima dengan utuh.
Epilog Hari Pertama
Hari pertama ditutup dengan rasa puas dan optimis di hati kami. Kami dari Lazismu Jawa Tengah (Agus Miswanto dan Kukus Tri) melihat langsung proses di kawasan industri Al-Salhiyah Al-Gadidah membuat kami yakin. Kolaborasi tim Lazismu Pusat dengan mitra lokal (GDD) dan didukung penuh oleh kader PCIM Mesir berjalan sangat lancar.
Dari kota industri di Provinsi Sharqia ini, bantuan tidak hanya sekadar dikirim, namun disiapkan dengan standar terbaik. Insya Allah, amanah donatur Lazismu akan segera mengetuk pintu-pintu tenda pengungsian, membawa pesan cinta dan persaudaraan dari Indonesia.
Ditulis oleh: Agus Miswanto, MA (anggota delegasi Join Action For Palestine 4, Dewan Pengwas Syariah Lazismu Jateng, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang [UNIMMA]).













Butuh Bantuan?
Jika Anda memiliki pertanyaan seputar Zakat, Infaq, Sedekah dan Fidyah silahkan Hubungi Kami!