27 RAJAB, JIHAD SHALAHUDDIN AL-AYYUBI DALAM PEMBEBASAN BAITUL MAQDIS

Kisah Jihad Bulan Rajab

Pada tanggal 27 Rajab seluruh umat Islam diseluruh dunia memperingti Israk miraj. Sebuah peristiwa luar biasa (mukjizat) yang dialami Nabi Muhammad ﷺ, di mana Allah SWT memperjalankan beliau pada satu malam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina (Isra’), kemudian menaikkan beliau ke langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj) untuk menerima perintah shalat lima waktu bagi umat Islam. Selain peristiawa tersebut pada tanggal dan bulan yang sama umat Islam juga mengenang periistiwa yang monumental dalam Sejarah perjuangan Islam:  berhasilnya  Salahudin Al- Ayyubi dalam pembebasan Baitul Maqdis.

Keberhasilan Shalahuddin Al-Ayyubi dalam membebaskan Baitul Maqdis pada 27 Rajab 583 H (2 Oktober 1187 M) bukanlah peristiwa yang terjadi secara instan. Pembebasan tersebut merupakan puncak dari jihad panjang yang dibangun melalui kesabaran, keteguhan iman, dan strategi yang matang. Shalahuddin memahami bahwa kemenangan sejati tidak hanya diraih dengan kekuatan senjata, tetapi juga melalui pembinaan akidah umat, persatuan politik, dan perbaikan moral masyarakat Muslim yang sebelumnya tercerai-berai akibat konflik internal.

Baca juga : Keistimewaan Bulan Rajab Berdasarkan Al-Quran dan Sunnah

Jihad yang dilakukan Shalahuddin Al-Ayyubi memiliki makna yang sangat luas. Ia tidak semata-mata dimaknai sebagai peperangan fisik, tetapi sebagai upaya menyeluruh untuk menegakkan keadilan dan membebaskan umat dari penindasan. Sebelum menghadapi pasukan Salib, Shalahuddin terlebih dahulu melakukan jihad melawan korupsi, kemewahan berlebihan para penguasa, dan fanatisme golongan yang melemahkan kekuatan umat Islam. Inilah jihad moral dan sosial yang menjadi fondasi utama kemenangan Islam di Baitul Maqdis.

Ketika Baitul Maqdis berhasil dibebaskan, Shalahuddin Al-Ayyubi menunjukkan keteladanan akhlak yang luar biasa. Berbeda dengan tragedi pembantaian besar yang dilakukan pasukan Salib saat merebut Yerusalem pada 1099 M, Shalahuddin menjamin keselamatan penduduk kota, baik Muslim, Nasrani, maupun Yahudi. Ia memberikan perlindungan, kebebasan beribadah, serta kesempatan bagi musuhnya untuk menebus diri secara manusiawi. Sikap ini menegaskan bahwa jihad dalam Islam bertujuan menghadirkan rahmat dan keadilan, bukan balas dendam.

Momentum 27 Rajab menjadi pengingat penting bagi umat Islam bahwa Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis memiliki kedudukan yang sangat mulia, baik secara teologis maupun historis. Isra’ Mi’raj menegaskan ikatan spiritual umat Islam dengan Masjidil Aqsha, sementara pembebasan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi menegaskan tanggung jawab kolektif umat dalam menjaga dan membela tempat suci tersebut. Keduanya mengajarkan bahwa kemuliaan Islam hanya dapat diraih melalui keimanan yang kokoh dan perjuangan yang berkelanjutan.

Dalam konteks kekinian, spirit jihad Shalahuddin Al-Ayyubi relevan untuk dimaknai sebagai perjuangan membangun peradaban dan kemaslahatan umat. Jihad hari ini dapat diwujudkan melalui penguatan pendidikan, ekonomi umat, solidaritas sosial, serta kepedulian terhadap sesama. Inilah nilai yang sejalan dengan gerakan filantropi Islam, seperti zakat, infak, dan sedekah, yang menjadi instrumen penting dalam membangun kemandirian dan kesejahteraan umat secara berkelanjut  

Melalui peringatan 27 Rajab, Lazismu mengajak umat Islam untuk meneladani nilai-nilai luhur Isra’ Mi’raj dan perjuangan Shalahuddin Al-Ayyubi. Momentum ini hendaknya menjadi refleksi untuk memperkuat ibadah, meningkatkan kepedulian sosial, dan berkontribusi nyata bagi kemaslahatan umat. Dengan semangat memberi dan berbagi, zakat dan infak dapat menjadi bagian dari jihad kemanusiaan yang menghadirkan harapan, keadilan, dan keberkahan bagi semua. 

Referensi:
https://www.britannica.com/biography/Saladin
https://muhammadiyah.or.id

Oleh : Yusuf Hadi Pramono