Kepercayaan muzakki dan penghormatan terhadap martabat mustahik menjadi perhatian utama dalam Kajian Jumat Pagi Lazismu Jawa Tengah, Jumat (9/10/2026). Wakil Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Tengah, Dr. H. Ahmad Furqon, Lc., M.A., menegaskan bahwa pengelolaan zakat perlu dilandasi keikhlasan, amanah, dan kasih sayang.
Kajian yang berlangsung di kantor Lazismu Jawa Tengah tersebut diikuti jajaran eksekutif. Melalui pembahasan tentang amil yang diridai Allah, dipercaya muzakki, dan dirindukan mustahik, Furqon mengingatkan pentingnya menjaga nilai pengabdian dalam setiap pekerjaan.
“Amil yang diridai Allah, dipercaya muzakki, dan dirindukan mustahik,” menjadi pesan utama yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Furqon menjelaskan bahwa amil memegang tanggung jawab untuk mengelola kepercayaan sekaligus menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Tugas ini perlu dijalankan dengan kesadaran bahwa pekerjaan merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah, bukan semata kegiatan untuk mendapatkan penghargaan dari manusia.
Menurutnya, kepercayaan muzakki tumbuh melalui sikap amanah dan integritas. Kedua nilai tersebut harus melekat pada amil ketika menjalankan tugas pengelolaan zakat. Tanggung jawab terhadap dana yang dipercayakan kepada lembaga menjadi bagian dari komitmen untuk menjaga hubungan baik dengan pemberi zakat.
Di sisi lain, Furqon menekankan bahwa pelayanan kepada mustahik harus memperhatikan perasaan dan kehormatan penerima manfaat. Penyaluran bantuan perlu dilakukan dengan cara yang baik agar tidak menimbulkan rasa malu ataupun melukai harga diri mereka.
“Melayani dengan kasih sayang dan menjaga martabat,” ujar Furqon ketika menyampaikan kunci pelayanan kepada mustahik.
Ia menerangkan bahwa perhatian terhadap mustahik mencakup kebutuhan jasmani dan rohani. Karena itu, amil perlu melihat penerima manfaat sebagai pribadi yang memiliki perasaan dan kehormatan. Sikap peduli dalam memberikan layanan menjadi bagian penting dari pelaksanaan tugas tersebut.
Dalam kajian itu, Furqon menyampaikan enam nilai yang perlu menjadi pegangan amil, yakni ikhlas, takwa, ihsan, amanah, integritas, serta pelayanan dengan kasih sayang. Nilai tersebut menghubungkan kualitas ibadah dengan tanggung jawab pekerjaan dan hubungan antarmanusia.
“Ikhlas di dalam bekerja,” kata Furqon saat menjelaskan landasan pengabdian seorang amil.
Ia mengingatkan bahwa keikhlasan perlu dijaga dengan tidak mengharapkan pujian maupun balasan dari manusia. Amil hendaknya menjadikan rida Allah sebagai orientasi dalam bekerja. Dengan niat tersebut, pengabdian dijalankan sebagai bagian dari ibadah dan upaya menghadirkan kebaikan.
Furqon juga menekankan pentingnya ketakwaan melalui ketaatan beribadah. Ia mengingatkan amil untuk menjaga salat dan membaca Al-Qur’an secara istikamah. Menurutnya, tanggung jawab pekerjaan perlu dilaksanakan seiring dengan pemeliharaan kehidupan spiritual.
Adapun ihsan dijelaskan sebagai kesadaran dalam mengabdi bahwa Allah senantiasa melihat setiap perbuatan. Nilai ini mendorong amil memaksimalkan kemampuan ketika bekerja. Kesungguhan menjalankan tugas menjadi bagian dari usaha untuk terus menambah kebaikan dalam pengabdian.
Furqon turut mengaitkan tugas pengumpulan zakat dengan Surah At-Taubah ayat 103. Ia membahas peran amil dalam kerja sama untuk kebaikan serta nilai pengabdian melalui pengelolaan infak dan sedekah. Dalam penjelasannya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari jalan mencari pahala bersama.
Pembahasan itu mempertemukan tiga tanggung jawab amil, yaitu pengabdian kepada Allah, pemeliharaan kepercayaan muzakki, dan pelayanan kepada mustahik. Ketiganya perlu dijalankan secara bersamaan agar pekerjaan tetap memiliki dasar spiritual dan kepedulian sosial.
Kajian Jumat Pagi ini memberikan penguatan kepada jajaran eksekutif Lazismu Jawa Tengah mengenai pentingnya menjaga niat, perilaku, dan kualitas pelayanan dalam setiap pelaksanaan tugas pengelolaan zakat.
Kontributor: Andin
Editor: Jabbar










Tinggalkan Komentar