Mengejar Keunggulan Dunia dan Akhirat: Kekuatan Ambisi, Fastabiqul Khairat, dan Rahasia Doa Mustajab

Empat pemuda sahabat nabi berdoa dengan khusyuk di depan Kabah memohon doa mustajab.

Dalam ajaran Islam, memiliki harapan atau ambisi yang besar terhadap sesuatu yang positif—yang sering disebut sebagai tumuh—sangat diperbolehkan, bahkan dianjurkan, selama tetap berada di dalam koridor syariat agama. Umat Islam dididik untuk tidak hidup setengah-setengah. Kita dianjurkan untuk selalu bersemangat mengejar prestasi terbaik; baik itu dalam mencari rezeki yang halal, meraih posisi karier tertinggi, maupun dalam meningkatkan kualitas ibadah keseharian. Menjadi umat terbaik berarti menyeimbangkan kejayaan di dunia sekaligus mempersiapkan bekal terbaik untuk akhirat.

Baca juga : Mengapa Bersandar pada Allah Tidak Akan Pernah Mengecewakan?

Sejarah peradaban Islam mencatat sebuah kisah luar biasa tentang kekuatan impian. Suatu ketika, empat pemuda berkumpul di depan Ka’bah: Urwah bin Zubair, Abdullah bin Zubair, Mus’ab bin Zubair, dan Abdul Malik bin Marwan. Di tempat suci tersebut, mereka dengan penuh keyakinan mengutarakan angan-angan terbesarnya.

Abdullah bercita-cita menjadi khalifah di Makkah dan Madinah, Mus’ab bermimpi menjadi gubernur di Syam atau Khurasan, Abdul Malik berambisi menjadi penguasa bagi seluruh wilayah Islam, sementara Urwah menanamkan impian spiritual yang mulia, yakni menjadi ulama besar yang ilmunya menerangi umat. Menakjubkannya, tak sampai 10 tahun berlalu, Allah SWT mengabulkan seluruh harapan besar keempat pemuda tersebut. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa manusia sejatinya dianjurkan untuk “tamak” atau sangat berharap terhadap luasnya rahmat Allah.

Seringkali manusia baru khusyuk menengadahkan tangan ketika musibah melanda. Padahal, kita sangat dianjurkan untuk meminta nikmat Allah dipertahankan dan ditambahkan di saat lapang. Meminta perlindungan dan kelapangan rezeki saat sedang sehat dan berkecukupan dinilai lebih afdal (utama) dan besar pahalanya dibandingkan baru berdoa saat jatuh sakit atau bangkrut.

Selain itu, pantang menyerah adalah kunci dari doa yang mustajab. Mari meneladani kisah para nabi, seperti Nabi Ibrahim dan Nabi Zakaria. Meski dihadapkan pada kenyataan medis bahwa istri mereka mandul dan usia sudah sangat senja, mereka terus memohon tanpa henti selama puluhan tahun. Kesabaran itu berbuah manis ketika Allah mengabulkan doa mereka dengan mengaruniakan anak-anak yang saleh dan membawa tongkat estafet kenabian.

Islam sangat akrab dengan konsep Afdal yang berarti “lebih baik”. Oleh karena itu, kita dituntut untuk selalu bersaing memperebutkan pahala yang paling besar (fastabiqul khairat). Jika kita melihat rekan sejawat lebih rajin beribadah atau lebih dermawan dalam bersedekah, hal itu harus dijadikan pemicu agar kita bisa mengejar dan menjadi lebih baik dari mereka.

Sikap kompetitif yang positif ini pernah ditunjukkan oleh dua sahabat utama, Umar bin Khattab dan Abu Bakar ash-Shiddiq, menjelang Perang Tabuk. Umar berusaha menyaingi Abu Bakar dengan menyedekahkan setengah dari seluruh harta kekayaannya. Namun, Umar harus mengakui keunggulan keimanan Abu Bakar yang tanpa ragu menyerahkan seluruh hartanya di jalan Allah. Di generasi berikutnya, dua ulama besar, Abdullah bin Mubarak dan Fudhail bin Iyad, memiliki kebiasaan saling mengamati ibadah malam satu sama lain demi terus meningkatkan kualitas spiritual mereka.

info sedekah online

Puncak dari ketulusan hati dan ibadah yang ikhlas tergambar jelas dalam kisah seorang budak kulit hitam di Makkah. Suatu ketika, Makkah dilanda kekeringan yang sangat hebat hingga sumur Zamzam mengering. Meskipun para penduduk dan ulama terkemuka telah berkumpul melaksanakan salat Istisqa, hujan tak kunjung turun.

Di tengah keputusasaan itu, seorang budak terlihat melaksanakan salat dua rakaat secara menyendiri di sudut Ka’bah. Gerakannya sangat khusyuk dan indah. Usai salat, ia memanjatkan doa yang sangat sederhana untuk meminta hujan. Keajaiban langsung terjadi detik itu juga; awan mendung seketika berkumpul dan hujan deras mengguyur kota Makkah.

Abdullah bin Mubarak yang kebetulan menyaksikan kejadian itu segera mencari tahu identitasnya dan kemudian membelinya. Sang budak ternyata memiliki rutinitas yang luar biasa: di siang hari ia sangat patuh bekerja keras, di malam hari ia tidak pernah tidur melainkan salat menghadap Tuhannya, dan dari gajinya yang sangat minim, ia selalu menyisihkan setengahnya untuk disedekahkan.

Ketika sang budak menyadari bahwa rahasia doa mustajab dan amal kebaikannya telah diketahui manusia, ia sangat khawatir keikhlasannya akan ternoda oleh sifat riya’. Ia pun segera berdoa di dalam salatnya, meminta agar Allah mewafatkannya saat itu juga jika hal tersebut lebih baik baginya. Doanya kembali menembus langit, dan ia pun seketika menghembuskan napas terakhirnya dalam keadaan syahid demi menjaga keikhlasan.

Semangat untuk menjadi yang terbaik tidak hanya berhenti pada capaian dunia, tetapi berlanjut hingga ke akhirat. Jangan pernah merasa cukup dengan surga tingkatan terendah; kejarlah derajat surga tertinggi, yakni Jannatul Firdaus.

Dalam hal kematian pun, umat Islam dianjurkan mengejar akhir yang terbaik (husnul khatimah). Umar bin Khattab pernah berdoa secara khusus meminta agar bisa mati syahid di kota Madinah. Secara logika, Madinah pada saat itu adalah pusat peradaban Islam yang paling aman dan mustahil diserang musuh dari luar. Namun, Allah mewujudkan permintaan luar biasa tersebut. Umar wafat tertusuk saat sedang mengimami salat subuh, menjadikannya syuhada. Mati syahid memiliki keutamaan tiada tara: masuk surga tanpa hisab, diampuni segala dosanya sejak tetesan darah pertama, bebas dari fitnah kubur, serta mampu memberikan syafaat bagi 70 anggota keluarganya.

Islam hadir untuk mencetak penganutnya menjadi manusia-manusia terbaik. Mari bangun semangat berkreasi, bekerja keras, dan berinovasi untuk meraih keunggulan di dunia maupun di akhirat, selama semua pencapaian tersebut berada dalam koridor syariat yang diridai Allah SWT.

Seperti halnya sang budak yang menyedekahkan setengah dari gajinya yang minim demi mendapatkan rida Allah, kita pun bisa memulai langkah kebaikan dari apa yang kita miliki saat ini. Di era digital, niat baik untuk menyaingi para sahabat nabi dalam hal kedermawanan bisa dilakukan dengan sangat mudah.

Bagi Anda yang ingin menyalurkan zakat, infak, maupun sedekah secara aman, cepat, dan tepat sasaran, Lazismu Jateng hadir sebagai mitra tepercaya. Melalui platform resmi lazismupeduli.id, Anda dapat menunaikan sedekah online kapan saja dan di mana saja. Mari jadikan platform ini sebagai jembatan fastabiqul khairat kita setiap hari. Kunjungi lazismupeduli.id sekarang, dan bersama-sama kita bangun keunggulan dunia-akhirat dengan memberdayakan umat.