Serupa Tapi Tak Sama: Membedakan Bahagia dan Nikmat dalam Islam.

ketenangan jiwa yang menggambarkan perbedaan bahagia dan nikmat dalam ajaran Islam.

Jangan salah, bahagia dan nikmat itu berbeda. Jika bahagia ada di dalam hati atau sifatnya batiniah, sementara nikmat itu dapat dirasakan oleh panca indra.

Menurut Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo, perbedaan lain dari bahagia dan nikmat juga ada pada durasi waktunya.

“Kalau kebahagiaan pada umumnya dirasakan di dalam diri, batin itu panjang dan lama,” ungkap Rahmadi pada Ahad (13/9) dalam Kajian Ahad Pagi di Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta.

Sebaliknya, kenikmatan itu durasi waktunya pendek. Seperti rasa enak yang dirasakan oleh lidah ketika makan. Durasinya biasanya hanya pendek, nikmat yang dirasakan hanya ketika sedang makan, setelahnya tinggal sisa-sisa.

Termasuk obyek yang dapat dinikmati dengan mata itu biasanya tidak berlangsung lama, dan manusia akan menemukan titik jenuh atau bosan. Terlebih jika sudah menemukan tandingan obyek yang baru.

Oleh karena itu, dalam urusan rumah tangga tidak boleh hanya melihat atau mengukur sesuatu dari kenikmatan yang terindra, melainkan harus membangun hubungan baik yang melibatkan urusan batin.

Rahmadi Wibowo menambahkan, maka konsep sakinah ma waddah wa rahmah dalam relasi rumah tangga itu harus melibatkan batin. Tidak cukup seorang berumah tangga hanya berangkat dari satu aspek fisik saja.

Pakar Hadis UAD ini juga menjelaskan, dalam terma bahasa Arab, bahagia adalah saadah. Kebahagiaan bagi seorang muslim itu ada tiga yakni ketenangan jiwa atau jiwa yang tenang, hati yang tentram, dan dada yang lapang.

Baca juga : Bencana Alam dan Ulah Manusia: Menghidupkan “Algoritma Spiritual” Lewat Taubat Nasional

info sedekah online

“Semua itu dihasilkan dari keistikamahan perilaku baik. Baik berbuat baik, dan adanya kedekatan kepada Allah,” tuturnya.

Mengutip akhir surat Al Baqarah ayat 262, Rahmadi menjelaskan, tiadanya rasa takut dan sedih dalam hati itu menurut Ibnu Katsir karena Islam menuntun umatnya supaya terus memiliki harapan yang baik.

Banyak ulama menjelaskan, bahwa puncak harapan baik yang harus dimiliki oleh setiap muslim adalah kembali ke surga dan mendapat ampunan dari Allah Swt.

Sumber : muhammadiyah.or.id