Lazismu dan MDMC Perlu Perkuat Kolaborasi untuk Respons Bencana yang Cepat dan Terkoordinasi

Ahmad Zaeni dari Lazismu Jawa Tengah memaparkan pentingnya kolaborasi dengan MDMC pada lokakarya penanggulangan bencana di Medan.

MEDAN, LAZISMU JAWA TENGAH – Penanggulangan bencana membutuhkan lebih dari sekadar kepedulian dan ketersediaan sumber daya. Diperlukan kolaborasi yang kuat, koordinasi yang terarah, serta pembagian peran yang jelas antarlembaga. Hal tersebut disampaikan Ir. Ahmad Zaeni, M.M., Wakil Sekretaris Lazismu Jawa Tengah, dalam diskusi panel pada acara Pengukuhan dan Lokakarya MDMC Sumatra Muhammadiyah di Kantor PWM Sumatra Utara, Ahad (11/10/2026).

Dalam paparannya, Ahmad Zaeni menegaskan bahwa kebencanaan bukan hanya ujian kemanusiaan, tetapi juga ujian kolaborasi. Kecepatan respons, ketepatan koordinasi, dan kemampuan mengintegrasikan berbagai sumber daya menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan penanganan bencana.

“Bencana bukan hanya menguji kepedulian kita terhadap sesama, tetapi juga menguji sejauh mana kita mampu berkolaborasi. Respons yang lambat dan tidak terkoordinasi akan membuat penanganan bencana menjadi kurang optimal, meskipun sebenarnya kita memiliki sumber daya yang cukup,” jelasnya.

Menurutnya, sumber daya yang besar tidak akan memberikan hasil maksimal apabila bergerak sendiri-sendiri. Karena itu, seluruh potensi Muhammadiyah perlu dihimpun dan dikoordinasikan agar mampu bergerak secara terpadu dalam situasi tanggap darurat maupun pada tahap pemulihan pascabencana.

Menggerakkan Kekuatan Lazismu hingga Akar Rumput

Ahmad Zaeni menjelaskan bahwa Lazismu Jawa Tengah memiliki jaringan kelembagaan yang tersebar di berbagai daerah, termasuk unit perwakilan dan ratusan kantor layanan. Jaringan tersebut menjadi modal penting untuk menggerakkan penghimpunan dana kemanusiaan secara luas dan cepat ketika bencana terjadi.

Penghimpunan tidak hanya dilakukan pada tingkat wilayah, tetapi juga melibatkan seluruh tingkatan organisasi hingga unit dan kantor layanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“Ketika terjadi bencana, seluruh lini harus bergerak. Penghimpunan dana kemanusiaan perlu dilakukan secara terkoordinasi, sekaligus menggerakkan kantor dan jaringan layanan untuk mendukung operasional posko bencana,” ungkapnya.

Menurut Ahmad Zaeni, bencana sering kali menjadi momentum yang menggerakkan solidaritas masyarakat. Kepedulian tumbuh melampaui batas organisasi, wilayah, maupun latar belakang sosial. Potensi solidaritas ini perlu dikelola melalui mekanisme penghimpunan dan penyaluran yang terarah agar bantuan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat terdampak.

Dana kemanusiaan yang dihimpun melalui Lazismu tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan tanggap darurat, tetapi juga mendukung penguatan masyarakat di wilayah terdampak agar dapat bangkit dan pulih secara berkelanjutan.

Lazismu Menghimpun, MDMC Menjalankan Respons Kebencanaan

Dalam konteks penanggulangan bencana Muhammadiyah, Ahmad Zaeni menekankan pentingnya pembagian peran yang jelas antara Lazismu dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).

Lazismu berperan utama dalam menghimpun dan mengelola dukungan dana kemanusiaan, sedangkan pelaksanaan respons kebencanaan di lapangan dijalankan oleh MDMC sesuai kompetensi, mekanisme, dan kebutuhan penanganan bencana.

Pembagian peran tersebut memungkinkan masing-masing lembaga bekerja sesuai kapasitasnya. Lazismu memperkuat dukungan pendanaan dan mobilisasi sumber daya, sementara MDMC mengoptimalkan keahlian teknis dalam penanganan bencana, mulai dari asesmen kebutuhan, koordinasi respons, hingga pemulihan masyarakat terdampak.

“Lazismu memiliki kekuatan dalam penghimpunan dana dan mobilisasi dukungan masyarakat. Sementara itu, MDMC memiliki kompetensi dalam pelaksanaan respons kebencanaan. Keduanya harus saling menguatkan agar bantuan yang dihimpun dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata dan tepat sasaran,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa kolaborasi Lazismu dan MDMC membutuhkan dukungan penuh dari pimpinan Muhammadiyah. Arahan, kebijakan, dan penguatan koordinasi dari pimpinan menjadi landasan penting agar seluruh unsur organisasi dapat bergerak dalam satu komando dan tujuan kemanusiaan yang sama.

Berbagi Pengalaman dan Memperkuat Kapasitas Kebencanaan

Diskusi panel tersebut juga menghadirkan Yoki Asmoro dari MDMC Jawa Tengah yang menyampaikan materi mengenai aspek teknis dan pengalaman dalam pelaksanaan respons bencana. Pengalaman lapangan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat kapasitas personel dan kesiapan organisasi menghadapi berbagai situasi kebencanaan.

Selain itu, diskusi turut menghadirkan staf ahli BPBD Sumatra Utara dan Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PWM Jawa Tengah, Prof. Ribut, yang memberikan perspektif sesuai bidang dan pengalaman masing-masing.

Pertemuan ini menjadi ruang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih efektif, terkoordinasi, dan berkelanjutan.

Kolaborasi untuk Kemanusiaan dan Ketangguhan Masyarakat

Pengukuhan dan lokakarya MDMC Sumatra Muhammadiyah diharapkan semakin memperkuat kesiapsiagaan serta sinergi antarlembaga dalam menghadapi ancaman bencana. Kolaborasi Lazismu dan MDMC merupakan bagian penting dari ikhtiar Muhammadiyah untuk menghadirkan pertolongan yang cepat, tepat, terkoordinasi, dan berorientasi pada pemulihan masyarakat.

Bagi Lazismu Jawa Tengah, penguatan jaringan penghimpunan dan solidaritas masyarakat harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas respons di lapangan. Dengan demikian, kepedulian yang tumbuh ketika bencana terjadi dapat dikelola menjadi gerakan kemanusiaan yang terorganisasi dan memberikan manfaat nyata.

Bencana memang ujian kemanusiaan, tetapi kolaborasi yang kuat akan menjadi kekuatan untuk menghadirkan pertolongan dan membangun kembali harapan masyarakat terdampak.

Lazismu Jawa Tengah – Memberi untuk Negeri, Menguatkan Kemanusiaan.