Istiqamah Itu Soal Menjaga Rutinitas, Bukan Sekadar Tumpukan Amal.

Istiqamah Itu Soal Menjaga Rutinitas, Bukan Sekadar Tumpukan Amal.

Mengetahui kebenaran dan memulai menjalankannya relatif mudah. Tantangan yang lebih besar adalah mempertahankan ketaatan secara konsisten. Karena itu, istiqamah menjadi bagian penting dari tuntutan iman seorang Muslim.

Hal tersebut disampaikan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Homaidi Hamid dalam khutbah Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat (25/09).

Baca juga : Serupa Tapi Tak Sama: Membedakan Bahagia dan Nikmat dalam Islam.

Homaidi mengutip hadis ketika Sufyan bin Abdullah al-Tsaqafi bertanya kepada Rasulullah Saw. mengenai Islam dengan sebuah ungkapan yang membuatnya tidak perlu lagi bertanya kepada orang lain. Rasulullah Saw. menjawab, “Qul amantu billah tsumma istaqim,” yang berarti, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian istiqamahlah.”

Menurut Homaidi, jawaban Rasulullah Saw. tersebut menunjukkan bahwa iman tidak berhenti pada pengakuan. Setelah menyatakan keimanan kepada Allah, seorang Muslim dituntut untuk istiqamah dalam menempuh shirath al-mustaqim atau jalan yang lurus.

Ia menjelaskan, para ulama mendefinisikan istiqamah sebagai luzumu tha’atillah, yakni senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah Swt. Mengucapkan syahadat menjadi pintu masuk seseorang sebagai mukmin, sedangkan tuntutan berikutnya adalah menjaga keimanan tersebut melalui ketaatan yang terus-menerus.

“Namun lebih dari itu tuntutan iman itu bukan sekadar diucapkan tapi tsumma istaqim. Kemudian beristiqamahlah,” tuturnya.

Homaidi kemudian mengutip firman Allah dalam Surah Fussilat ayat 30 tentang orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan mereka adalah Allah, kemudian mereka istiqamah. Allah menjanjikan ketenangan bagi mereka melalui kehadiran para malaikat yang mengatakan agar mereka tidak takut dan bersedih serta memberikan kabar gembira tentang surga yang telah dijanjikan.

Menurutnya, ayat tersebut memperlihatkan keterkaitan antara iman dan istiqamah. Keimanan menjadi awal, kemudian diikuti dengan konsistensi dalam ketaatan kepada Allah.

Karena itu, Homaidi mengingatkan jamaah untuk memprioritaskan amal dalam menjalani kehidupan beragama. Amalan wajib harus dilaksanakan secara konsisten selama seseorang mampu mengerjakannya. Sementara perbuatan yang diharamkan harus dihindari, kecuali dalam keadaan darurat.

Di luar kewajiban, ia mendorong jamaah membiasakan diri mengerjakan amalan sunah secara bertahap. Menurutnya, seseorang tidak perlu langsung membebani diri dengan banyak amalan sunah sekaligus. Kebiasaan yang terlalu berat dikhawatirkan hanya bertahan sebentar sebelum akhirnya ditinggalkan.

Homaidi mengutip sabda Nabi Saw., “Ahabbul a’mali ilallahi adwamuha wa in qalla,” bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.

Ia memberikan contoh sederhana. Membaca Al-Qur’an satu halaman setiap hari, menurutnya, lebih baik daripada membaca dalam jumlah banyak dalam satu hari tetapi kemudian tidak mengulanginya lagi. Begitu pula dengan salat malam. Seseorang dapat memulai dengan witir satu atau tiga rakaat, kemudian menjaganya secara rutin setiap malam.

“Melaksanakan salat lail mungkin hanya witir satu rakaat atau bahkan tiga rakaat tapi dilakukan secara terus-menerus secara rutin setiap malam,” katanya.

info sedekah online

Homaidi juga mengingatkan jamaah agar tidak meremehkan amal yang terlihat kecil. Amal yang dilakukan secara terus-menerus dapat membentuk karakter seseorang untuk mencintai kebaikan.

Ia mengutip hadis Nabi Saw., “Ittaqū an-nāra walau bi syiqqi tamrah,” yang mengingatkan umat untuk menjaga diri dari api neraka meskipun dengan bersedekah setengah kurma.

Menurut Homaidi, pesan tersebut menunjukkan bahwa amal kebaikan tidak seharusnya dinilai dari besar-kecilnya semata. Sedekah yang sederhana pun memiliki nilai ketika dilakukan dengan ikhlas.

“Rasulullah menghargai itu dan itu pun jika dilaksanakan dengan ikhlas insyaallah akan menjadi penolong kita, akan memperberat amal-amalan kebaikan kita,” ujarnya.

Pada bagian kedua khutbah, Homaidi kembali mengingatkan jamaah untuk senantiasa istiqamah di shirath al-mustaqim, yakni konsisten menempuh jalan lurus yang ditunjukkan Allah dalam Al-Qur’an dan dijelaskan Rasulullah Saw. melalui sunahnya.

Ia mengajak jamaah memulai dari satu amal baik yang dapat dijaga secara rutin. Setelah kebiasaan tersebut terbentuk, seseorang dapat menambahkan amal baik lainnya dan menjaganya secara konsisten.

“Setelah satu amalan baik itu bisa kita laksanakan secara rutin, kita bisa menambah amalan baik yang lain dan dikerjakan dengan rutin pula,” katanya.

Homaidi berharap kebiasaan tersebut menjadi bekal bagi umat dalam menjalani kehidupan sekaligus mendorong mereka menjauhi kemaksiatan.

“Mudah-mudahan kita menjadi orang yang mencintai kebenaran, mencintai amal saleh, dan benci kepada hal-hal yang dilarang,” pungkasnya.

Sumber : muhammadiyah.or.id